Bekal Memasuki Keabadian

Cerita imajiner islam berjudul Bekal Memasuki Keabadian
Jika engkau ingin memahami mengapa iman kepada Allah dan hari akhir merupakan kunci yang paling berharga yang dapat memecahkan misteri dan teka-teki alam bagi jiwa manusia serta dapat membuka pintu kebahagiaan dan ketenangan; mengapa sikap tawakal, sabar dan bersyukur merupakan obat yang ampuh; mengapa sikap memperhatikan Al-Qur'an, melaksanakan ajarannya, melaksanakan shalat dan meninggalkan dosa besar merupakan tiket yang paling penting, berharga dan terang sekaligus bekal akhirat, dan cahaya kubur, maka perhatikan cerita imajiner berikut ini.

Seseorang prajurit pada perang dunia berada dalam dilema dan kondisi yang sangat sulit. Pasalnya, ia mendapatkan dua luka menganga di sisi kanan dan kirinya. Sementara di belakangnya terdapat seekor singa yang nyaris menggigitnya. Di depannya terdapat tiang gantungan yang telah membinasakan semua kekasihnya. Di tambah lagi, di hadapannya terdapat pengasingan yang sulit dan panjang meski kondisinya yang sangat menyedihkan. Ketika si prajurit malang itu putus asa dengan kondisinya, tiba-tiba dari sisi kanan datang orang baik laksana Khidir As. yang wajahnya bersinar, dan berkata,

"Jangan putus asa! Aku akan memberitahumu dua azimat yang jika kau pergunakan secara baik, singa tadi akan berubah menjadi kuda tunggangan yang tunduk padamu, serta tiang gantungan itu akan berubah menjadi ayunan yang menyenangkan. Aku akan memberimu dua obat yang jika kau pergunakan secara baik akan membuat luka busukmu menjadi dua bunga yang harum semerbak. Aku juga akan membekalimu dengan tiket perjalanan satu tahun menjadi satu hari, seolah-olah kau terbang. Jika engkau tidak percaya, cobalah sekali lalu yakini kebenarannya, "Maka, si prajurit tadi mencobanya, dan ternyata benar.

Ya, aku Said yang malang juga percaya padanya. Pasalnya, aku telah mencobanya dan ternyata sangat benar.

Kemudian tiba-tiba si prajurit melihat seseorang yang mabuk, penipu dan licik seperti setan, datang dari sisi kiri dengan memakai perhiasan mewah, bentuk yang menarik, memikat dan membawa minuman keras lalu berdiri di hadapannya sambil berkata,

"Ke sini, ke sini, wahai teman. Kemarilah agar kita bisa bermain bersama, menikmati segala hal yang indah. Mari kita melihat gambar-gambar wanita, bersenang-senang dengan mendengarkan beragam lagu, serta merasakan sejumlah makanan lezat ini. Namun, wahai fulan mengapa engkau berkomat-kamit terus?"
"Ini adalah azimat."
"Tinggalkanlah ia agar tidak menodai kesenangan kita. Wahai fulan, apa yang sedang kau pegang?"
"Ia adalah obat."
"Buang jauh-jauh! Engkau sehat tidak apa-apa. Kita sedang bersenang-senang dan bergembira. Lalu apa kartu yang memiliki lima tanda itu?"
"Ini adalah tiket perjalanan dan perintah tugas."
"Robeklah ia! Pada musim semi seperti ini kita tidak perlu melakukan perjalanan."

Demikianlah, ia berusaha dengan segala cara agar prajurit tadi yakin. Akhirnya orang malang itu pun mulai terpengaruh.

Ya, manusia memang tertipu. Aku juga pernah tertipu ketika menghadapi orang seperti itu. Tiba-tiba ada gema suara seperti petir dari sisi kanannya memberikan peringatan, "Jangan sampai engkau tertipu! Katakan kepada si penipu itu, 'Jika engkau bisa membu**h singa di belakangku, mengangkat tiang gantungan di hadapanku, menyelamatkanku dari luka yang menganga di kanan dan kiriku, serta membuatku tak perlu lagi melakukan perjalanan yang berat dan panjang, maka perlihatkan hal itu padaku dan berikan apa yang kaumiliki. Setelah itu, engkau boleh mengajakku bermain dan bersenang-senang. Namun, jika tidak, diamlah, orang bodoh. Biarlah orang mulia seperti Khidir ini saja yang berbicara.'"

Wahai jiwa yang meratapi sesuatu yang ditertawakan oleh masa mudanya! Ketahuilah, si prajurit malang itu adalah dirimu, sementara singa tersebut adalah ajal, lalu tiang gantungan di atas adalah kematian dan perpisahan yang pasti dirasakan oleh setiap jiwa. Tidakkah engkau melihat bagaimana orang-orang yang dicinta terus meninggalkan kita entah pada waktu siang ataupun malam. Selanjutnya, dua luka dalam tadi, yang pertama berupa ketidakberdayaan manusia yang tak terhingga dan yang kedua berupa kepapahan manusia yang menyedihkan dan tak bertepi. Adapun pengasingan dan perjalanan panjangnya berupa rangkaian ujian yang dihadapi manusia yang dimulai dari alam arwah, lalu rahim ibu, masa kanak-kanak, dan kemudian masa tua, dunia, kubur, barzakh, mahsyar, dan jembatan sirath.

Kemudian kedua azimatnya berupa iman kepada Allah dan hari akhir. Ya, dengan azimat suci kematian membuat gambaran singa berubah menjadi kuda jinak dan buraq yang membawa manusia beriman dari penjara dunia menuju taman surga dan hadapan Tuhan Yang Mahapemurah. Oleh karena itu orang-orang yang mencapai kedudukan sempurna mencintai dan mengharapkan mati sebab mereka telah melihat hakikatnya. Selanjutnya, perjalanan waktu yang merupakan perpisahan, kematian, wafat dan gantungan dengan azimat iman ini berubah menjadi satu bentuk bercahaya di mana ia mendorong manusia untuk melihat hal yang baru dengan terbaharuinya segala sesuatu. Bahkan ia menjadi sumber harapan dalam beragam bentuk mukjizat kreasi Sang Pencipta, qudrat-Nya yang luar biasa, dan manifestasi rahmat-Nya. Sama seperti keindahan yang dihasilkan dari perubahan cermin yang memantulkan warna-warni sinar mentari dan perubahan gambar pada layar teater sehingga menjadi pemandangan yang menarik.

Terkait dengan obat itu: sikap tawakal kepada Allah dan sikap sabar. Yaitu bersandar kepada qudrat Tuhan Sang Pencipta dan yakin kepada hikmah-Nya.

Apakah benar demikian?
Ya, orang yang dengan identitas "ketidakberdayaannya" bersandar kepada Penguasa alam yang memiliki peruntah "kun fayakun" bagaimana mungkin akan risau dan gelisah?! Karena ia mengucap, "Inna lilla wa inna ilayhi raji'un" ketika menghadapi sebuah musibah menakutkan seraya percaya kepada Allah Yang Maha Penyayang dengan sikap tenang.

Ya, orang yang mengenal Allah menikmati ketidakberdayaan dan rasa takutnya kepada Allah. Ya, dalam rasa takut terdapat kenikmatan. Andaikan kita bisa meminta penjelasan dari anak kecil yang berusia satu tahun dengan mengasumsikan bahwa ia memiliki akal dan bisa berbicara, "Apakah kondisi paling indah dan paling nikmat bagimu?" Tentu ia akan menjawab, "Ketika aku menyadari kelemahan dan ketidakberdayaanku seraya berlindung di pelukan ibu yang penuh kasih sayang akibat rasa takut yang bersumber dari tamparan ibu." Seperti kita ketahui, kasih sayang seluruh ibu tidak lain merupakan kilau manifestasi rahmat Allah yang luas.

Karena alasan inilah orang-orang yang telah mencapai kesempurnaan merasakan kenikmatan dalam ketidakberdayaan dan rasa takutnya kepada Allah. Bahkan, mereka berlepas diri dari seluruh daya dan kekuatan mereka dengan berlindung kepada Allah lewat rasa papa mereka. Mereka mempersembahkan rasa tidak berdaya dan takut tersebut sebagai sarana syafaat.

Adapun obat lainnya berupa doa, permintaan, rasa cukup dengan pemberian-Nya, bersyukur kepada-Nya, serta yakin terhadap rahmat Tuhan Pemberi rezeki yang Maha Pengasih.

Apakah benar demikian?
Ya, bagaimana mungkin rasa fakir dan butuhnya menjadi beban bagi manusia yang menjadi tamu dari Zat Yang Mahadermawan lagi Maha Pemurah yang telah menghamparkan bumi sebagai hidangan penuh nikmat untuknya serta menjadikan musim semi bagaikan karangan bunga yang indah yang diletakkan di sisi hidangan itu?! Justru ia akan menjadikan rasa fakir dan butuhnya kepada Allah sebagai satu cara untuk mendapatkan nikmat tadi. Bahkan ia semakin menampakkan rasa butuh sebagaimana orang yang semakin menampakkan keinginannya. Di sinilah tersimpan rahasia mengapa orang-orang yang memiliki iman sempurna bangga dengan rasa butuh mereka kepada Allah Swt. Namun, engkau tidak boleh salah paham dengan yang kami maksudkan dengan rasa fakir di sini. Ia adalah merasakan kefakiran dan memohon kepada Allah semata. Bukan menampakkan kefakirannya kepada manusia, dan meminta-minta kepada mereka.

Lalu terkait dengan tiket atau kartu tersebut, ia berupa melaksanakan kewajiban, terutama shalat lima waktu, dan menghindari dosa.

Apakah benar demikian?
Ya, seluruh kalangan yang telah mencapai tingkat kasyaf, ahli, dan menyaksikan yang terdiri dari para ulama dan wali yang saleh sepakat bahwa bekal, simpanan, cahaya, dan buraq di perjalanan abadi yang panjang dan gelap itu diperoleh dengan menunaikan perintah Al-Qur'an dan menghindarkan diri dari larangan-larangannya. Jika tidak, pengetahuan, filsafat, keahlian, dan hikmah sama sekali tidak berguna dalam perjalanan tersebut. Sinar mereka hanya sampai di pintu kubur.

Karena itu, wahai diri yang malas, betapa ringan mengerjakan shalat lima waktu dan menghindarkan tujuh dosa besar! Jika engkau cerdas, niscaya dapat memahami betapa sangat penting dan besar hasil, manfaat, dan buahnya. Katakanlah kepada setan dan orang yang mengajakmu kepada kefasikan dan senda gurau:

"Andaikan engkau memiliki cara untuk membu**h kematian dan melenyapkan perpisahan dari dunia, andaikan engkau memiliki obat untuk menghilangkan ketidakberdayaan dan kefakiran pada diri manusia serta sarana untuk menutup pintu kubur, coba tunjukkan dan katakan biar kudengar dan kupatuhi." Namun, jika tidak, diamlah!

Pasalnya, Al-Qur'an membacakan ayat-ayat kauniyah di masjid alam yang besar ini. Karena itu, mari kita mendengarkannya, raihlah cahayanya, dan marilah melaksanakan petunjuknya yang penuh hikmah sehingga lisan kita basah dengan berzikir dan membacanya. Ya, segala ucapan hanyalah milik-Nya. Dialah Yang Mahabenar. Dia pula yang memperlihatkan hakikat kebenaran serta menebarkan ayat-ayat cahaya hikmah.

"Ya Allah, terangi kalbu kami dengan cahaya iman dan Al-Qur'an. Ya Allah cukupkan kami dengan rasa butuh pada-Mu dan merasa cukup dengan-Mu. Kami berlepas dari daya dan kekuatan kami dengan menyerah dan pasrah pada daya dan kekuatan-Mu. Maka, jadikan kami sebagai orang yang bertawakal kepada-Mu. Jangan serahkan kami pada diri kami. Jagalah kami dengan penjagaan-Mu. Kasihi kami serta kasihi seluruh kaum mukmin dan mukminah."

Salawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kami, Muhammad, hamba-Mu, nabi-Mu, pilihan-Mu, kekasih-Mu, lisan cinta-Mu, contoh rahmat-Mu, cahaya penciptaan-Mu, kehormatan entitas-Mu, lentera keesaan-Mu di tengah banyak makhluk-Mu, penyingkap misteri alam-Mu, penunjuk kekuasaan rububiyah-Mu, penyampai rida-Mu, pengenal perbendaharaan nama-Mu, pengajar hamba-Mu, penafsir ayat-Mu, cermin keindahan rububiyah-Mu, sumbu penyaksian dan persaksian-Mu, kecintaan-Mu, dan rasul-Mu yang telah Kau utus sebagai rahmat bagi semesta alam. Juga kepada keluarga, seluruh sahabat, dan saudara beliau dari kalangan nabi dan rasul. Serta kepada para malaikat yang dekat dengan-Mu dan kepada hamba-Mu yang saleh. Aamiin.