Berbisnis Dengan Allah

Cerita imajiner islam berjudul Berbisnis dengan Allah
Jika engkau ingin mengetahui bahwa menjual jiwa dan harta kepada Allah Swt. serta menjadi hamba kepada-Nya dan menjadi prajurit-Nya merupakan bisnis yang paling menguntungkan dan pangkat yang paling terhormat, perhatikan cerita imajiner yang singkat berikut ini.

Pada suatu hari, seorang raja memberikan sebuah ladang yang luas sebagai titipan dan amanah kepada dua orang rakyatnya. Ladang itu berisi mesin, perangkat, senjata, hewan dan semua keperluannya. Ketika itu meletus perang yang sangat hebat sehingga segalanya berubah. Maka, sebagai bentuk kasih sayang dan karunianya, raja mengirim salah seorang ajudannya dengan membawa perintah darinya untuk disampaikan kepada dua orang tadi:

"Juallah kepadaku amanah yang kuberikan agar kupelihara untuk kalian sehingga dalam kondisi sulit semacam ini ia tidak hilang percuma. Aku akan mengembalikannya lagi pada kalian dalam bentuk yang lebih baik saat perang usai. Aku juga akan membayakannya dengan harga yang tinggi seakan-akan amanah itu adalah milik kalian. Semua mesin dan perangkat yang berada di pabrik digunakan atas namaku. Maka, harga dan nilainya meningkat dari satu menjadi seribu. Di samping itu, semua laba yang ada juga akan dikembalikan kepad kalian. Aku akan mengambil alih semua beban dan biaya yang ada untuk kalian di mana kalian lemah dan miskin tak mampu menanggung biaya untuk menjalankan mesin tersebut. Aku akan mengembalikan kepadamu semua manfaat dan hasilnya. Juga, aku akan membiarkannya bersama kalian agar bisa dipergunakan dan dinikmati hingga saat untuk mengambilnya kembali datang. Dengan demikian, engkau akan mendapatkan lima keuntungan sekaligus.

Jika engkau tidak menjualnya kepadaku, semua yang ada pada kalian akan lenyap. Sebab, seperti yang kauketahui tidak ada yang bisa menjaga miliknya. Engkau juga tidak akan mendapatkan harga yang mahal. Perangkat yang halus dan mahal serta neraca sensitif dan sumber-sumber yang berharga itu pun akan terabaikan. Nilainya akan turun. Hal itu lantaran tidak dipergunakan pada berbagai aktivitas yang mulia. Selain itu engkau sendiri akan melihat balasan dari sikap kalian yang mengkhianati amanat. Itulah lima kerugian sekaligus yang akan diterima.

Menjual kepadaku berarti menjadi prajuritku dan bertindak atas namaku. Engkau akan menjadi ajudan prajurit yang khusus dan merdeka bagi raja yang mulia daripada menjadi tawanan atau prajurit liar."

Kedua orang tadi mendengarkan ucapan indah dan perintah raja yang mulia tersebut. Maka, orang yang berakal dari mereka berkata, "Aku mendengar dan taat kepada perintah raja. Aku sangat bangga dan bersyukur dengan jual beli ini."

Sebaliknya, orang kedua yang congkak, nafsunya bersifat firaun dan lalai mengira bahwa ladangnya tidak akan pernah musnah dan tidak akan pernah berubah. Ia berkata, "Tidak. Siapa raja itu? Aku tidak akan menjual milikku dan merusak kesenanganku."

Waktu terus berjalan. Orang pertama di atas berada dalam kondisi yang membuat seluruh manusia iri padanya. Pasalnya, ia hidup bahagia di istana raja sambil menikmati sejumlah karunianya. Adapun yang kedua mendapatkan ujian yang paling buruk sehingga seluruh manusia meratapinya meskipun mereka juga berkata bahwa ia memang berhak mendapatkan ujian tersebut. Sebab, sebagai akibat dari kesalahannya sendiri ia kehilangan kebahagiaan dan harta sekaligus mendapatkan hukuman dan azab.

Karena itu, wahai jiwa yang penuh keinginan, lihatlah sisi hakikat lewat teropong cerita di atas. Yang dimaksud dengan raja adalah Tuhan dan Penciptamu Yang merupakan Penguasa azali dan abadi. Ladang, mesin, perangkat dan neracanya berupa tubuh, ruh dan kalbu yang kau miliki di dunia berikut pendengaran, akal dan imajinasi yang ada di dalamnya. Yaitu semua indera lahir dan batin. Adapun utusan mulianya berupa junjungan kita Nabi Muhammad Saw. Adapun perintah raja yang bijak berupa Al-Qur’an yang mengumumkan jual beli dan bisnis yang menguntungkan dalam ayatnya, "Allah membeli dari kaum beriman, jiwa dan harta mereka untuk ditukar dengan surga." Lalu medan yang berkecamuk dengan perang adalah kondisi dunia ini di mana ia tidak pernah tetap dan stabil. Seluruhnya adalah berbagai perubahan yang melahirkan sebuah pertanyaan berikut dalam pikiran manusia:

"Seluruh yang kita miliki akan lepas dari tangan kita, lenyap dan hilang. Adakah cara untuk membuatnya kekal dan abadi?"

Saat manusia tenggelam memikirkan hal tersebut, tiba-tiba ia mendengar gema suara Al-Qur’an yang terdengar di seluruh cakrawala, "Ya, terdapat cara untuk hal ini. Bahkan, ia merupakan cara yang sangat baik yang mendatangkan keuntungan besar dalam lima tingkatan."

Pertanyaannya, "Apakah cara tersebut?"
Jawabannya adalah menjual amanah kepada Pemiliknya yang hakiki. Pada transaksi tersebut terdapat lima keuntungan sekaligus.

Keuntungan pertama adalah harta yang fana menjadi kekal. Pasalnya, umur fana yang diberikan kepada Zat Yang Mahahidup dan Abadi dan dikerahkan di jalan-Nya akan berubah menjadi umur yang abadi dan menghasilkan buah yang abadi. Ketika itulah detik demi detik umur manusia secara lahir lenyap dan seperti benih, tetapi menghasilkan bunga kebahagiaan di alam keabadian dan menjadi pemandangan yang bercahaya dan menyenangkan di alam barzakh.

Keuntungan kedua, harganya berupa surga.

Keuntungan ketiga, nilai setiap organ dan indera menjadi naik dari satu menjadi seribu.

Misalnya, akal merupakan organ dan perangkat yang jika tidak kau jual kepada Allah dan tidak dipergunakan di jalan-Nya, tetapi dipergunakan untuk memperturutkan hawa nafsu, ia akan berubah menjadi organ yang celaka, mengganggu dan melemahkan. Pasalnya, ia akan membebanimu dengan derita masa lalu yang pedih dan kondisi masa depan yang menakutkan. Pada saat itu, ia pun turun menjadi perangkat yang berbahaya dan celaka. Pada saat itu, ia pun turun menjadi perangkat yang berbahaya dan celaka. Karena alasan inilah orang fasik tenggelam dalam hura-hura dan pemabukan guna menyelamatkan diri dari gangguan kerisauan akalnya. Namun, jika akal tersebut dijual kepada Pemilik hakikinya dan dipergunakan di jalan-Nya, ia akan menjadi kunci yang menakjubkan di mana ia bisa membuka perbendaharaan rahmat Allah dan kekayaan hikmat ilahi yang tak terhingga. Maka, dengan demikian akal tersebut naik menuju tingkatan pembimbing rabbani yang mempersiapkan pemiliknya menuju kebahagiaan abadi.

Contoh lain: mata merupakan indera. Ruh dapat melihat alam ini lewat jendela itu. Jika ia tidak dipergunakan di jalan Allah dan hanya dipergunakan untuk memperturutkan hawa nafsu, maka ia menjadi pelayan bagi hawa nafsu dan syahwat melalui berbagai pemandangan dan keindahan yang bersifat sementara yang dilihatnya. Akan tetapi, jika engkau menjualnya kepada Pemiliknya Yang Maha Melihat dan kau pergunakan pada sesuatu yang Dia ridai, ketika itu mata menjadi pemerhati dan pembaca kitab alam yang besar, saksi untuk berbagai mukjizat ilahi yang terdapat di alam dan naik derajat bagai lebah yang penuh berkah di antara bunga-bunga rahmat ilahi yang terdapat di kebun bumi.

Contoh lain: jika engkau tidak mejual indera pengecap yang terdapat di lisan kepada Penciptanya yang Mahabijak, lalu kau mempergunakannya untuk perut dan hawa nafsu semata, maka ia derajatnya akan turun menjadi penjaga pintu perut. Namun, jika kau mejualnya kepada Sang Pemberi rezeki Yang Maha Pemurah ia akan naik ke tingkat pengawas perbendaharaan rahmat Tuhan yang mahir serta pemilik dapur qudrat Tuhan yang bersyukur.

Karena itu, wahai akal, perhatikanlah! Sungguh jauh perbedaan antara perangkat yang sial dan kunci pembuka kekayaan alam.

Wahai mata, lihatlah dengan baik! Sungguh jauh perbedaan antara perantara yang hina dan pengawas pustaka ilahi.

Wahai lisan, rasakanlah dengan penuh kenikmatan! Sungguh jauh perbedaan antara penjaga pintu pabrik dan kandang dengan pemerhati kekayaan rahmat Tuhan. Wahai saudaraku, engkau bisa mengukur organ dan indera lainnya dengan cara tersebut. Dari sana engkau akan memahami mengapa mukmin mendapatkan hak istimewa yang sesuai dengan surga, sementara orang kafir meraih substansi yang cocok dengan neraka. Masing-masing mendapatkan balasan yang adil tersebut karena orang mukmin dengan keimanannya mempergunakan amanah Penciptanya atas nama-Nya dan dalam ruang lingkup rida-Nya. Sebaliknya, orang kafir mengkhianati amanah dan mempergunakannya untuk memperturutkan nafsunya yang memerintahkan kepada keburukan.

Keuntungan keempat: manusia sangat lemah, sementara ujiannya sangat banyak. Ia miskin namun di sisi lain kebutuhannya terus bertambah. Ia tidak berdaya namun beban hidupnya demikian berat. Nah, jika manusia tidak bertawakal kepada Zat Mahaagung yang Mahakuasa dan tidak bersandar kepada-Nya, serta jika ia tidak percaya dan tidak menyerahkan urusan kepada-Nya, nuraninya akan terus tersiksa dan menderita. Kesulitan dan kesedihan yang tanpa berbuah mencekiknya. Entah hal itu membuatnya menjadi pemabuk atau binatang buas.

Keuntungan kelima, seperti telah menjadi kesepakatan kalangan yang telah mencapai tingkat kasyaf, ahli dan menyaksikan bahwa berbagai ibadah, zikir dan tasbih yang dikerjakan organ tubuh akan menghasilkan buah surga yang baik dan nikmat serta ia akan diberikan di saat engkau sangat membutuhkannya.

Demikianlah, pada bisnis tersebut terdapat laba yang besar yang mengandung lima macam keuntungan. Jika hal itu tidak kau lakukan maka engkau tidak akan mendapatkan seluruh keuntungan yang ada. Di samping itu, engkau akan mengalami lima macam kerugian lainnya. Yaitu: kerugian pertama, harta dan anak-anak yang kaucintai, hawa nafsu yang kauturuti, serta kehidupan dan masa muda yang kausenangi, semua akan sirna dan lenyap seraya menyisakan dosa dan derita yang memberatkan punggungmu.

Kerugian kedua, engkau akan mendapatkan hukuman sebagai orang yang mengkhianati amanah. Pasalnya, dengan mempergunakan perangkat dan organ yang paling berharga pada perbuatan yang paling hina berarti engkau telah menzalimi diri sendiri.

Kerugian ketiga, engkau telah menghina dan menzalimi hikmah ilahi dengan menjatuhkan semua perangkat manusia yang mulai kepada kedudukan binatang, bahkan lebih rendah lagi.

Kerugian keempat, engkau akan merintih dan sedih akibat perpisahan dan beratnya beban kehidupan yang telah membebani lenganmu yang lemah, di samping kondisimu yang papar dan tak berdaya.

Kerugian kelima, hadiah Tuhan yang indah seperti akal, kalbu, mata dan seterusnya yang diberikan kepadamu untuk menyiapkan kebutuhan dasar kehidupan abadi dan kebahagiaan akhirat berubah menjadi bentuk menyakitkan di mana ia  membuka pintu neraka untukmu.

Sekarang kita melihat kepada jual beli itu sendiri, apakah ia berat dan benar-benar memenatkan sehingga banyak yang lari darinya?!

Ternyata tidak. Tidak ada penat dan berat padanya. Sebab wilayah halal demikian luas dan lapang sehingga cukup untuk memberikan kebahagiaan dan kesenangan. Karena itu, tidak ada alasan untuk masuk ke dalam wilayah haram. Lalu apa yang Allah wajibkan kepada kita juga ringan. Menjadi hamba dan prajurit kepada Allah merupakan betapa sebuah penghormatan besar yang menyenangkan, tak bisa dilukiskan.

Nah, tugasmu adalah seperti seorang prajurit mulai dengan nama Allah, bekerja dengan nama Allah, mengambil dan memberi atas nama-Nya, serta bergerak dan diam di wilayah rida dan perintah-Nya. Kalau engkau berbuat salah, beristigfarlah. Bersimpuhlah kepada-Nya dan ucapkan, "Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami. Terimalah kami sebagai hamba-Mu. Jadikan kami sebagai orang-orang yang amanah menjaga semua amanah-Mu pada kami hingga datang hari pengambilan amanah tersebut. Aamiin."