Hikmah Waktu-Waktu Shalat

Cerita imajiner islam berjudul Hikmah Waktu-Waktu Shalat
Saudaraku, engkau bertanya tentang hikmah penetapan shalat lima waktu. Kami akan menjelaskan satu hikmah saja di antara begitu banyak hikmah yang ada.

Ya, sebagaimana waktu setiap shalat merupakan awal perubahan masa yang demikian penting, ia juga merupakan cermin kehendak Tuhan yang memantulkan sejumlah karunia-Nya yang melimpah pada waktu tersebut. Karena itu, pada waktu-waktu tersebut shalat diperintahnya. Yaitu dengan memperbanyak tasbih dan penghormatan kepada Zat Mahakuasa Yang Mahaagung, serta memperbanyak pujian dan rasa syukur atas nikmat-nikmat-Nya yang tak terhitung di mana ia terkumpul antara dua waktu tersebut. Agar makna yang mendalam ini dapat dipahami, marilah kita sama-sama memperhatikan lima hal berikut:

Pertama

Makna shalat adalah menyucikan, mengagungkan (ta'zhim), dan bersyukur kepada Allah Swt. Yakni, menyucikan-Nya dengan mengucap subhanallah dalam bentuk ucapan dan perbuatan terhadap kemuliaan-Nya. Mengagungkan-Nya dengan mengucap Allahu Akbar dalam bentuk ucapan dan perbuatan terhadap kesempurnaan-Nya. Serta, bersyukur dengan mengucap alhamdulillah dalam kalbu, lisan, dan fisik terhadap keindahan-Nya.

Dengan kata lain, tasbih, takbir, dan tahmid berkedudukan seperti benih shalat sehingga ia terdapat di seluruh gerakan shalat dan zikirnya. Oleh karena itu pula, ketiga kalimat indah tersebut diucapkan secara berulang sebanyak tiga puluh tiga kali seusai shalat. Hal ini untuk menguatkan dan mengokohkan makna shalat.

Kedua

Makna ibadah adalah bersujudnya seorang hamba dengan penuh cinta dan rasa kagum di hadapan kesempurnaan rububiyah, qudrat, dan rahmat Tuhan seraya menyaksikan kekurangan, kelemahan, dan kefakiran dirinya.

Ya, jika kekuasaan rububiyah menuntut adanya ubudiyah dan ketaatan maka kesucian-Nya juga menuntut agar di samping beristigfar dan mengakui kekurangan diri, seorang hamba mengakui keberadaan Tuhannya yang bersih dari segala kekurangan, jauh dari semua pandangan kaum yang sesat yang batil, suci dari seluruh cacat makhluk. Ia mengutarakan semua itu dengan bertasbih mengucap subhanallah.

Demikian pula qudrat rububiyah yang sempurna menuntut hamba agar melakukan rukuk dengan penuh khusyuk, berlindung dan bertawakal pada-Nya lantaran melihat kelemahan dirinya dan ketidakberdayaan seluruh makhluk seraya mengucap Allahu Akbar dengan penuh kekaguman dan penghormatan di hadapan tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Lalu, kasih sayang Tuhan yang demikian luas juga menuntut hamba-Nya untuk memperhatikan berbagai kebutuhannya dan kebutuhan seluruh makhluk lewat pinta dan doa, serta menampakkan kebaikan Tuhan dan berbagai karunia-Nya yang melimpah lewat syukur, sanjungan, dan pujian dengan mengucap alhamdulillah.

Dengan kata lain, seluruh perbuatan dan ucapan dalam shalat berisi makna-makna tersebut. Karena itulah shalat diwajibkan oleh-Nya.

Ketiga

Manusia adalah miniatur dari alam yang besar ini dan surah al-Fatihah merupakan contoh bersinar dari Al-Quran. Karena itu, shalat juga merupakan indeks bersinar yang mencakup seluruh bentuk ibadah dan peta suci yang menjelaskan seluruh model ibadah makhluk.
Tasbih, takbir, dan tahmid berkedudukan seperti benih shalat sehingga ia terdapat di seluruh gerakan shalat dan zikirnya. Oleh karena itu pula, ketiga kalimat indah tersebut diucapkan secara berulang sebanyak tiga puluh kali seusai shalat. Hal ini untuk menguatkan dan mengokohkan makna shalat.

Keempat

Jarum jam yang menghitung detik, menit, jam, dan hari masing-masing serupa dengan yang lain dan mewakili yang lain. Demikian pula di alam dunia yang merupakan jam ilahi terbesar. Putaran siang dan malam yang berposisi sebagai detik jam, tahun demi tahun yang seperti menit, serta tahapan umur manusia yang terhitung sebagai jam, serta putaran usia alam yang terhitung sebagai hari, masing-masing menyerupai dan mengingatkan pada yang lain.

Sebagai contoh: waktu fajar hingga terbit matahari. Ia menyerupai sekaligus mengingatkan awal musim semi, saat jatuhnya manusia ke dalam rahim ibu, serta hari pertama dalam penciptaan langit dan bumi. Waktu ini mengingatkan pada sejumlah kondisi agung ilahi yang terdapat pada waktu-waktu tersebut.

Adapun waktu zuhur, ia menyerupai dan menunjukkan pertengahan musim panas, penyempurnaan masa muda, rentang waktu penciptaan manusia dalam umur dunia, serta mengingatkan berbagai manifestasi rahmat dan limpahan karunia yang terdapat pada seluruh masa tersebut.

Selanjutnya waktu asar menyerupai musim gugur, masa senja, dan era kebahagiaan yang merupakan era penutup para rasul, Muhammad Saw. Ia mengingatkan berbagai kondisi agung ilahi dan kemurahan rahmat yang terdapat pada keseluruhannya.

Lalu waktu magrib mengingatkan terbenamnya sebagian besar makhluk pada akhir musim gugur. Ia juga mengingatkan kematian manusia, kehancuran dunia saat kiamat datang. Di samping itu, ia menunjukkan sejumlah manifestasi ilahi dan membangunkan manusia dari tidur kelalaian.

Sementara, waktu isya mengingatkan akan tersebarnya alam kegelapan yang menutupi alam siang dengan kain hitamnya. Ia juga mengingatkan musim dingin yang menutupi muka bumi yang sudah mati dengan kafan putih, mengingatkan akan kematian bahkan jejak manusia yang mati berikut bagaimana ia dilupakan, serta mengingatkan bahwa pada akhirnya pintu-pintu negeri ujian dunia akan tertutup. Pada semua itu ia memberitahukan kehendak dan perbuatan ilahi Yang Mahaperkasa dan Mahaagung.

Selanjutnya, waktu malam mengingatkan musim dingin, kubur, dan alam barzakh. Di samping itu, ia mengingatkan betapa jiwa manusia sangat membutuhkan rahmat Tuhan Yang Maha Penyayang.

Tahajud pada waktu malam mengingatkan urgensinya sebagai cahaya bagi malam kubur dan bagi gelapnya alam barzakh. Ia juga mengingatkan berbagai nikmat yang tak terhingga dari Sang Pemberi nikmat hakiki sepanjang perubahan yang terjadi. Ia juga menginformasikan tentang kelayakan Pemberi nikmat hakiki untuk disanjung dan dipuji.

Lalu, subuh yang kedua mengingatkan keberadaan hari kebangkitan di padang mahsyar. Ya, apabila kedatangan subuh pada malam ini, serta kedatangan musim semi pada musim dingin merupakan sesuatu yang regional dan pasti, maka kedatangan mahsyar dan musim semi barzakh juga merupakan sesuatu yang pasti.

Jadi, setiap waktu dari kelima waktu yang ada merupakan awal perubahan besar serta mengingatkan kepada berbagai perubahan besar lainnya. Ia juga mengingatkan pada mukjizat qudrat dan hadiah rahmat-Nya yang berskala tahunan, abad lewat petunjuk perbuatan harian qudrat Tuhan yang agung. Dengan demikian shalat wajib yang merupakan tugas fitrah dan landasan ubudiyah sangat sesuai dan sangat cocok jika dilakukan pada waktu-waktu tersebut.

Kelima

Manusia sangat lemah secara fitrah. Namun, segala sesuatu dapat membuatnya sedih dan sakit. Di samping itu ia sangat tak berdaya, namun musuh dan musibahnya sangat banyak. Ia juga sangat miskin, namun kebutuhannya tak terhitung. Ia pun malas dan tak memiliki kekuatan, namun beban hidup demikian berat atasnya. Unsur kemanusiaannya menjadikannya terpaut dengan seluruh alam, padahal perpisahan dengan apa yang ia cintai begitu menyakitkan. Akalnya memperlihatkan sejumlah tujuan mulia dan buah abadi, namun kemampuan, usia, kekuatan, dan kesabarannya terbatas.

Maka jiwa manusia dalam kondisi demikian di waktu fajar sangat perlu mengetuk pintu Zat Yang Mahakuasa dan Mahaagung serta Zat Yang Maha Penyayang dengan doa dan shalat. Ia perlu menampakkan keadaannya di hadapan Tuhan seraya meminta taufik dan pertolongan dari-Nya. Betapa jiwa manusia sangat membutuhkan titik tempat bersandar agar dapat menghadapi sejumlah pekerjaan yang menantikannya serta berbagai tugas yang berada di pundaknya di waktu siang. Bukankah hal ini dapat dipahami secara jelas?!

Pada waktu zhuhur, yaitu saat puncak kesempurnaan siang, di saat amal aktivitas sehari-hari mulai sempurna dikerjakan dan saat beristirahat sebentar setelah penat bekerja. Itu adalah waktu saat jiwa butuh bernapas dan beristirahat setelah dunia yang fana dan kesibukan yang melelahkan membuatnya lalai dan bingung. Ia juga merupakan saat datangnya sejumlah nikmat ilahi.

Jiwa manusia baru terlepas dari berbagai kesulitan dan kelalaian, serta keluar dari berbagai urusan yang sepele dan fana ini dengan bersimpuh di hadapan pintu Zat Yang Mahakekal sebagai Pemberi hakiki. Yaitu dengan merendah dan meminta-Nya dengan tangan yang bersedekap seraya bersyukur dan memuji sejumlah nikmat-Nya, meminta pertolongan pada-Nya semata, disertai upaya menampakkan ketidakberdayaan di hadapan keagungan-Nya lewat rukuk. Juga menampakkan kekaguman, cinta dan kerendahan hati melalui sujud di hadapan kesempurnaan-Nya yang abadi dan di hadapan keindahan-Nya yang kekal. Inilah pelaksanaan shalat zhuhur. Betapa ia sangat indah, sangat nikmat, sangat layak, dan sangat penting! Karena itu, manusia yang tidak bisa memahami hal ini tidak patut disebut manusia.

Saat shalat asar waktu ini mengingatkan kepada musim gugur yang lara, kondisi masa tua yang menyedihkan, saat-saat akhir zaman yang pedih, serta waktu terlihatnya hasil amal sehari-hari. Ia merupakan saat diraihnya keseluruhan nikmat-Tuhan yang demikian besar, seperti kesehatan, keselamatan, serta pelaksanaan berbagai tugas mulia. Ia juga waktu pemberitahuan bahwa manusia sangat lemah, hamba suruhan, serta bahwa segala sesuatu akan berakhir. Hal itu seperti ditunjukkan oleh saat condongnya matahari yang besar menuju tenggelam.

Ya, ruh manusia yang mengharapkan keabadian, diciptakan untuk kekalan, dan merindukan kebaikan, serta merasa sakit dengan adanya perpisahan membuat manusia bangkit pada waktu asar dan menyempurnakan wudhu guna menunaikan shalat asar untuk bermunajat dengan merendahkan diri di hadapan pintu Tuhan Yang Maha tak bermula, Mahaabadi dan Berdiri Sendiri. Juga untuk meminta karunia dan rahmat-Nya yang luas serta untuk mempersembahkan rasa syukur dan pujian atas nikmat-Nya yang tak terhingga. Maka, ia pun merukuk dengan penuh ketundukan di hadapan keagungan rububiyah-Nya dan bersujud dengan penuh tawaduk di hadapan keabadian uluhiyah-Nya. Ia merasakan kenikmatan dan kelapangan sempurna dengan menunjukkan pengabdian total di hadapan keagungan kebesaran-nya. Betapa tugas melaksanakan shalat asar dengan makna ini adalah sesuatu tugas yang sangat mulia! Betapa ia merupakan pengabdian yang sangat tepat! Bahkan betapa ia waktu yang sangat cocok untuk membayar hutang fitrah! Serta betapa ia merupakan kebahagiaan penuh nikmat! Siapa yang betul-betul manusia, pasti memahami hal ini.

Saat waktu magrib mengingatkan saat menghilangnya sejumlah makhluk yang indah dalam perpisahan yang menyedihkan di musim kemarau dan gugur karena mulai musim dingin. Ia juga mengingatkan saat manusia masuk ke dalam kubur ketika wafat dan berpisah dengan seluruh kekasih. Serta, mengingatkan kematian seluruh dunia dengan goncangannya dan perpindahan seluruh penghuninya menuju alam lain. Selain itu, ia mengingatkan kepada padamnya lentera negeri ujian ini. Ia adalah waktu yang memperingati orang-orang yang mencintai makhluk yang fana.

Manusia yang memiliki jiwa yang bersih laksana cermin yang terang yang secara fitrah menginginkan manifestasi keindahan Tuhan Yang Mahaabadi guna menunaikan shalat maghrub di saat seperti ini mengarahkan wajahnya ke arasy keagungan Zat Yang Maha tak bermula, abadi, dan Zat yang menata urusan alam ini. Ia mengucap Allahu Akbar di hadapan seluruh makhluk yang fana dengan melepaskan tangannya dari mereka, serta terus mengabdi kepada Tuhannya dengan berdiri tegak di hadapan-Nya. Lalu, ia memuji kesempurnaan-Nya yang tanpa cacat, keindahan-Nya yang tak tertandingi dan rahmat-Nya yang luas dengan mengucap alhamdulillah. Ia kemudian mengucap, "Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan," guna memperlihatkan ubudiyahnya dan sikapnya yang memohon pertolongan kepada rububiyah Tuhannya yang tidak membutuhkan pembantu, kepada uluhiyah-Nya yang tak memiliki sekutu, serta kepada kekuasaan-Nya yang tak memiliki menteri. Ia merukuk guna memperlihatkan kelemahannya, ketidakberdayaannya, serta kefakirannya bersama seluruh entitas di hadapan kebesaran-Nya yang tak terhingga, di hadapan qudrat-Nya yang tak terbatas, serta di hadapan keperkasaan-Nya yang tak mengandung kelemahan. Ia pun bertasbih menyucikan Tuhannya Yang agung dengan berkata, "Subhâna Rabbiy al-Azhîm (Mahasuci Tuhanku yang Mahaagung)."

Setelah itu ia bersujud di hadapan keindahan Zat-Nya yang tidak akan hilang, di hadapan sifat-sifat-Nya yang suci yang tak pernah berubah, di hadapan kesempurnaan keabadian-Nya yang tidak berganti seraya menunjukkan cinta dan pengabdiannya dengan penuh kekaguman dan tawaduk sambil meninggalkan segala sesuatu selain-Nya. Kemudian ia berkata, "Subhâna Rabbiy al-A'lâ (Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi)." Ia menemukan Zat Yang Mahaindah, Mahaabadi, Mahakasih, dan Mahakekal sebagai ganti dari semua yang fana. Karena itu, ia menyucikan Tuhannya Yang Mahatinggi bersih dari kesirnaan dan kekurangan. Setelah itu, ia duduk tasyahud. Ia mempersembahkan penghormatan dan salawat yang baik untuk seluruh makhluk sebagai hadiah atas namanya kepada Zat Yang Mahaindah dan Mahaagung. Ia terus memperbarui sumpah setianya kepada Rasul yang mulia dengan memberikan salam kepadanya seraya memperlihatkan sikap taat atas seluruh perintah-Nya. Ia pun melihat keteraturan yang penuh hikmah dari istana alam ini untuk memperbarui dan menerangi imannya seraya Ia bersaksi atas keesaan Sang Pencipta Yang Mahaagung.

Kemudian ia bersaksi atas sosok yang menunjukkan kekuasaan rububiyah-Nya, penyampai hal-hal yang diridai-Nya, serta penerjemah ayat-ayat kitab alam yang besar ini; yaitu Muhammad Saw. Betapa suci melaksanakan shalat magrib dan betapa agung menunaikan tugas dengan kandungan makna di atas! Betapa ia merupakan kewajiban yang sangat mulia dan nikmat! Betapa ia merupakan ubudiyah yang sangat indah dan menyenangkan! Betapa ia merupakan hakikat yang serius! Begitulah kita melihat bagaimana ia merupakan bentuk persahabatan yang mulia, majlis penuh berkah, serta kebahagiaan yang kekal di dalam jamuan fana semacam ini. Layakkah orang yang tidak memahami hal ini menganggap dirinya sebagai manusia?!

Isya adalah waktu yang sisa-sisa siang lenyap di cakrawala dan malam menaungi dunia. Hal itu mengingatkan kepada perbuatan Zat yang membolak-balikkan siang dan malam. Dia mahakuasa dalam membalik lembaran putih kepada lembaran hitam. Hal itu juga mengingatkan kepada proses yang dilakukan oleh Zat yang menundukkan mentari dan rembulan. Dia Zat Mahabijak yang Maha Sempurna dalam membalik lembaran hijau yang menghias musim panas menjadi lembaran putih musim dingin. Dalam waktu yang sama hal itu mengingatkan kepada urusan Pencipta kematian dan kehidupan. Yaitu lewat hilangnya jejak penghuni kubur yang tersisa seiring dengan perjalanan waktu dari dunia ini serta lewat perpindahannya menuju alam lain. Isya adalah waktu yang mengingatkan kepada tindakan Tuhan, manifestasi keindahan Pencipta langit dan bumi, ketersingkapan alam akhirat yang luas, lapang, kekal, dan agung, serta kematian dunia yang sempit, fana, dan hina berikut kehancurannya secara total lewat sakaratnya. Ia merupakan saat atau kondisi yang menegaskan bahwa Pemilik hakiki dari alam ini, bahkan Zat yang disembah dan kekasih hakiki di dalamnya tidak lain adalah Zat yang mampu membalik siang dan malam, musim dingin dan panas, serta dunia dan akhirat dengan sangat mudah sebagaimana mambalik lembaran buku. Maka, Dia menulis, menetapkan, menghapus, dan merubah. Ini semua merupakan Zat Yang Mahakuasa yang kekuasaan-Nya berlaku pada semua makhluk.

Demikianlah. Jiwa manusia yang demikian lemah, fakir dan papa, dimana ia bingung menghadapi gelapnya masa depan dan takut terhadap apa yang tersembunyi dari perputaran siang dan malam, ini membuat mendorong manusia di saat melaksanakan shalat isya dengan makna tadi untuk tidak ragu-ragu mengulang-ulang ucapan Nabi Ibrahim As, "Aku tidak senang kepada segala yang lenyap." Dengan shalat, ia menuju pintu Tuhan seraya menyeru Zat Yang Mahakekal tersebut di dunia dan alam yang fana, serta dalam kehidupan dan masa depan yang gelap ini. Hal itu untuk menerangi seluruh penjuru dunia dengan cahaya yang berasal dari kebersamaan dan muajat yang bersifat sementara. Juga, untuk menerangi masa depannya dan membalut luka pedih akibat berpisah dengan sesuatu dan orang-orang yang dicinta dengan menyaksikan rahmat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta dengan meminta cahaya petunjuk-Nya. Lewat cara tersebut ia lupa terhadap dunia yang terasa nikmat yang menghilang di balik isya.

Ia pun menuangkan air mata kalbunya dan gelora hatinya ke tangga pintu rahmat tersebut guna melaksanakan tugas penghambaan terakhir sebelum masuk ke dalam kesudahan penuh misteri di mana ia tidak mengetahui apa yang akan dilakukan kepadanya sesudah tidur yang menyerupai mati. Juga, guna menutup lembaran amal harian dengan husnul khatimah. Karena itulah bangkit menunaikan shalat dengan bersimpuh di hadapan Zat yang disembah dan Kekasih Yang Mahaabadi; tidak kepada para kekasih yang fana. Ia berdiri di hadapan Zat Yang Mahakuasa dan Pemurah; tidak kepada makhluk yang lemah. Ia pun naik bersimpuh di hadapan Zat Yang Maha Menjaga dan Maha Pemurah agar selamat dari kejahatan makhluk-makhluk berbahaya yang ditakuti.

Ia membuka shalatnya dengan membaca surah al-Fatihah. Yakni, dengan memuji dan menyanjung Tuhan Pemelihara semesta alam Yang Maha Pemurah dan Penyayang dimana Dia Maha Sempurna dan Mahakaya; bukan memuji makhluk yang tidak berguna dan tak pantas dipuji karena cacat dan papa. Ia bangkit menuju kedudukan tamu yang mulia di alam ini, menuju kedudukan petugas yang mulia meski kecil, dan fana. Hal itu akibat posisinya yang naik menuju tingkatan ucapan iyyaka na'budu (Hanya kepada-Mu kami menyembah). Dengan kata lain, ia menisbatkan diri kepada Penguasa hari kemudian serta Sang Penguasa azali dan abadi. Maka, dengan iyyâka na'budu wa iyyâka nasta'in ia mempersembahkan sejumlah ibadah dan permohonan jamaah dan komunitas terbesar seluruh makhluk.

Selain itu ia meminta hidayah menuju jalan yang lurus yang merupakan jalan bersinar yang mengantarkan pada kebahagiaan abadi dengan melintasi gelapnya masa depan lewat ucapan ihdina ash-shirâth almustaqîm. Ia merenungkan kebesaran Allah dan berpikir bahwa sejumlah mentari yang bersinar, ia laksana tumbuhan dan hewan yang saat ini tumbuh serta binatang-gemintang merupakan tentara yang taat dan tunduk terhadap perintah Allah. Masing-masing ibarat lentera yang terdapat di rumah jamuan-Nya ini. Masing-masing juga laksana pelayan yang bekerja. Melihat hal itu ia bertakbir mengucap Allahu Akbar untuk kemudian rukuk.

Lalu, ia merenung lewat sujud besar seluruh makhluk bagaimana beragam jenis spesies pada setiap tahun dan setiap masa seperti makhluk yang tidur pada waktu malam bahkan bumi itu sendiri dan seluruh alam laksana pasukan yang teratur. Bahkan, ia seperti prajurit yang taat ketika dilepas dari tugas duniawinya dengan perintah kun fayakun. Yakni, ketika dikirim menuju alam gaib ia bersujud dengan sangat teratur di atas sajadah terbenamnya matahari dengan bertakbir mengucap Allahu Akbar. Ia juga dibangkitkan dan dikumpulkan pada musim semi dengan dirinya atau dengan yang sejenisnya lewat teriakan yang menghidupkan dan membangunkan yang bersumber dari perintah kun fayakun. Maka, dengan penuh ketundukkan dan kekhusyuan, semuanya bersiap-siap menerima perintah Tuhan mereka. Manusia yang lemah ini juga mengikuti makhluk yang lain dengan bersujud di hadapan hazanah Zat Maha Pengasih Yang Maha Sempurna dan Zat Maha Penyayang Yang Mahaindah seraya mengucap Allahu Akbar. Ia mengucapkannya dengan penuh cinta disertai rasa kagum dalam keadaan fana yang penuh dengan keabadian dan dalam ketundukkan yang dihiasi kemuliaan.
Setiap waktu shalat adalah isyarat bagi perubahan zaman yang sangat besar, tanda prosesi ilahi yang agung, serta petunjuk anugerah universal.
Wahai saudaraku, engkau pasti telah memahami bahwa melaksanakan shalat isya yang merupakan mi'raj. Sungguh ia merupakan tugas yang sangat indah, kewajiban yang sangat nikmat, pengabdian yang sangat istimewa, ubudiyah yang sangat mulia, serta hakikat yang sangat sesuai.

Dengan kata lain, setiap waktu shalat adalah isyarat bagi perubahan zaman yang besar, tanda prosesi ilahi yang agung, serta petunjuk anugerah universal. Penataan shalat wajib yang merupakan agama fitrah pada waktu- waktu tersebut penuh dengan hikmah.
Mahasuci Engkau wahai Tuhan. Kami tidak memiliki pengetahuan kecuali yang Kau ajarkan pada kami. Engkau Maha Mengetahui dan Mahabijak.
Ya Allah, sampaikan salawat dan salam kepada sosok yang Kauutus sebagai pengajar bagi hamba-hamba-Mu untuk memberitahukan cara mengenal dan beribadah kepada-Mu. Beliau juga sosok yang memperkenalkan kekayaan nama-nama-Mu, penafsir ayat-ayat kitab alam-Mu, serta lewat ubudiyahnya menjadi cermin terhadap keindahan rububiyah-Mu. Juga, kepada keluarga dan seluruh sahabatnya.
Kasihi kami serta seluruh kaum mukmin. Kabulkanlah wahai Zat Yang Maha Pengasih lewat rahmat-Mu.