Karunia Mendirikan Shalat (1)

Cerita imajiner islam berjudul Karunia Mendirikan Shalat bagian 1
Jika engkau ingin mengetahui nilai dan pentingnya shalat serta betapa ia sangat mudah diraih, sementara orang yang tidak menunaikan shalat akan merugi, jika engkau ingin mengetahui semua itu dengan yakin sebagaimana hasil perkalian dua kali dua sama dengan empat, maka perhatikan cerita imajiner yang singkat berikut ini.

Pada suatu hari, seorang penguasa agung mengirim dua orang pelayan ke ladangnya yang indah yang butuh waktu tempuh dua bulan perjalanan. Masing-masing pelayan mendapat upah dua puluh empat koin emas untuk tugas itu. Penguasa tersebut berkata, "Gunakan emas-emas itu untuk biaya dan keperluan perjalanan lainnya. Selebihnya, gunakan untuk keperluan hidup di sana. Ada sebuah terminal untuk para musafir yang jaraknya sejauh satu hari perjalanan. Di dalamnya terdapat semua bentuk dan sarana transportasi seperti mobil, pesawat, kapal laut dan kereta. Pilihlah sarana transportasi sesuai dengan modalmu."

Setelah menerima perintah, kedua pelayan itu pun keluar. Yang satu bahagia, karena sampai ke terminal ia hanya mengeluarkan sedikit uang untuk bisnis yang menguntungkan yang disenangi oleh tuannya. Modalnya langsung meningkat, dari satu menjadi seribu. Adapun pelayan yang lain, malang dan bodoh. Ia mengeluarkan dua puluh tiga koin emas yang dimiliki untuk bermain-main dan berjudi. Ketika sampai di terminal yang tersisa hanya satu koin emas.

Mengetahui kondisi tersebut, sahabatnya berkata, "Wahai Fulan, satu koin emas yang tersisa itu harus kaubelikan tiket perjalanan agar engkau tidak berjalan kaki dan menderita kelaparan. Tuan kita sangat pemurah dan penyayang. Semoga ia melimpahkan rahmatnya kepadamu dan mengampuni kesalahanmu, sehingga mereka membolehkanmu naik pesawat agar kita bisa sampai ke tempat tujuan pada hari yang sama. Jika tidak, engkau harus terus berjalan kaki melintasi padang pasir ini selama dua bulan diserta rasa lapar ditambah dengan rasa kesepian yang kau alami sepanjang perjalanan panjang tersebut."

Lihatlah, andaikan orang tersebut keras kepala, tidak membeli tiket perjalanan yang laksana kunci perbendaharaan baginya dengan satu lira yang tersisa itu dan menggunakannya untuk memperturutkan syahwatnya yang bersifat sementara dan untuk memenuhi kenikmatan yang segera sirna. Bukankah ini berarti ia malang dan merugi serta betul-betul bodoh. Bukankah ia orang yang paling t*lol?!

Wahai orang yang tidak menunaikan shalat, wahai jiwa yang merasa berat untuk mengerjakannya!

Sang penguasa yang dimaksud adalah kiasan untuk Tuhan dan Pencipta kita. Adapun kedua pelayan yang melaksanakan perjalanan itu, salah satunya adalah orang yang taat menjalankan agama dan menunaikan shalat dengan penuh kerinduan. Sementara yang satunya lagi adalah orang yang lalai dan meninggalkan shalat. Lalu uang koin emas yang sebanyak dua puluh empat tersebut adalah dua puluh empat jam dari setiap hari usia manusia. Kebun dan ladangnya berupa surga dan terminalnya berupa kubur. Perjalanan panjangnya adalah perjalanan manusia menuju kubur, mahsyar dan negeri keabadian. Mereka yang meniti jalan panjang ini menempuhnya dalam tingkatan yang berbeda-beda. Masing-masing sesuai dengan amal dan tingkat ketakwaan. Kaum bertakwa menempuh perjalanan sejauh seribu tahun hanya dalam satu hari laksana kilat. Sebagian lagi menempuh jarak lima ribu tahun perjalanan hanya dalam sehari secepat hayalan. Al-Qur'an menjelaskan hakikat ini dalam dua ayat.

Kemudian yang dimaksud dengan tiketnya adalah shalat. Satu jam cukup untuk melaksanakan shalat lima waktu berikut wudhunya. Karena itu, sungguh rugi orang yang menghabiskan dua puluh tiga jamnya untuk kehidupan dunia yang singkat ini dan tidak menghabiskan satu jam sisanya untuk kehidupan abadi. Sungguh ia sangat zalim terhadap dirinya dan sungguh sangat bodoh.

Jika tindakan menghabiskan setengah harta untuk judi yang diikuti lebih dari seribu orang dianggap sebagai sesuatu yang rasional padahal kemungkinan menangnya satu banding seribu, bagaimana dengan orang yang tidak mau mengeluarkan satu saja dari kedua puluh empat asetnya untuk mendapatkan keuntungan yang terjamin serta untuk meraih kekayaan abadi di mana kemungkinan untungnya sembilan puluh persen. Bukankah ini tidak rasional dan sama sekali tidak bijak?! Bukankah setiap orang berakal sehat dapat memahami hal tersebut?!

Shalat merupakan kelapangan terbesar bagi ruh, kalbu dan akal. Ia juga sama sekali tidak memenatkan badan. Lebih dari itu, seluruh perbuatan duniawi yang bersifat mubah yang dikerjakan oleh orang yang mengerjakan shalat bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang baik. Jadi, orang yang mengerjakan shalat dapat mengubah semua modal umurnya untuk akhirat sehingga ia meraih usia yang kekal lewat usianya yang fana.