Karunia Mendirikan Shalat (2)

Cerita imajiner islam berjudul Karunia Mendirikan Shalat bagian 2
Jika engkau ingin mengetahui bahwa mendirikan shalat dan menjauhi dosa-dosa besar merupakan tugas hakiki yang sesuai dengan manusia dan hasil fitri yang cocok dengan penciptaannya, perhatikan cerita imajiner yang singkat berikut ini:

Di salah satu batalion perang terdapat dua orang prajurit: yang pertama terlatih dan menjalankan tugasnya dengan bersungguh-sungguh; sementara yang lain tidak mengetahui tugasnya dan mengikuti hawa nafsunya. Orang yang melaksanakan tugasnya dengan baik sangat perhatian dengan latihan dan urusan jihad. Ia tidak pernah memikirkan urusan kebutuhan hidup dan persoalan rezekinya. Sebab, ia sadar dan sangat yakin bahwa penghidupannya, perhatian terhadap urusannya, pemberian bekal untuknya, bahkan pengobatan untuknya ketika sakit, serta satu suap yang masuk ke dalam mulutnya adalah kewajiban negara. Kewajiban utamanya hanya berlatih dan berjuang. Meskipun demikian, ia sadar kewajiban tersebut tidak menghalanginya untuk menyiapkan bekal dan mengerjakan sejumlah hal seperti memasak dan mencuci parabotan. Bahkan, saat mengerjakannya jika ditanya, "Apa yang sedang kau kerjakan?" ia menjawab, "Aku sedang melaksanakan sebagian kewajiban negara secara sukarela." Ia tidak menjawab, "Aku bekerja untuk mencari nafkah saya."

Adapun prajurit yang lain, yang tidak mengetahui kewajibannya, malas berlatih dan tidak memiliki perhatian dengan urusan perang. Ia berkata, "Itu urusan negara. Apa urusannya denganku? Karena itu ia sibuk dengan urusan nafkahnya dan terus menumpuk harta sehingga ia meninggalkan batalion untuk segera melakukan transaksi jual beli di pasar.

Pada suatu hari temannya yang terlatih berkata, "Wahai saudaraku, tugas utamamu adalah berlatih dan berperang. Engkau didatangkan ke sini untuk melaksanakan tugas tersebut. Adapun urusan hidup serahkan kepada penguasa negara. Ia tidak akan membiarkanmu lapar sebab itu adalah tugas dan kewajibannya. Di samping itu engkau tidak berdaya dan fakir. Engkau tidak bisa memenuhi kebutuhanmu di setiap tempat. Lebih dari itu, kita sedang berada dalam kondisi jihad dan di pentas perang dunia yang besar. Aku khawatir mereka menganggapmu sebagai pembangkang sehingga mendapatkan hukuman.

Ya, ada dua tugas yang tampak di hadapan kita. Pertama tugas penguasa, yaitu memenuhi kebutuhan kita. Kita kadang dipekerjakan secara Cuma-Cuma untuk menunaikan tugas tersebut. Yang kedua adalah tugas kita, yaitu berlatih dan berperang. Dalam hal ini penguasa memberikan kepada kita sejumlah bantuan dan fasilitas yang diperlukan. Wahai saudaraku, andaikan si prajurit tersebut tidak memperhatikan ucapan pejuang yang terlatih tadi betapa ia sangat merugi dan menghadapi bahaya.

Wahai jiwa yang malas, medan yang bergejolak dengan perang adalah kehidupan dunia ini. Pasukan yang terbagi kepada sejumlah batalion adalah umat manusia. Batalion itu sendiri adalah komunitas muslim saat ini. Lalu kedua prajurit tersebut yang pertama adalah orang yang mengetahui kewajiban agama dan melaksanakan berbagai kewajibannya. Ia adalah muslim bertakwa yang berjuang melawan nafsu dan setan agar tidak terjatuh ke dalam dosa dan menjauhi berbagai dosa besar. Sementara yang kedua adalah orang fasik yang merugi yang sibuk mencari dunia karena tidak percaya kepada Pemberi rezeki hakiki. Dalam menggapai sesuap nasi, ia berani meninggalkan kewajibannya dan mengerjakan maksiat. Selanjutnya, berbagai latihan yang ada berupa ibadah, khususnya shalat. Perang adalah perjuangan manusia melawan diri dan hawa nafsunya, menghindarkan diri dari dosa dan akhlak tercela, serta melawan setan dari kalangan jin dan manusia guna menyelamatkan kalbu dan ruhnya dari kebinasaan abadi.

Ya, Dzat yang memberikan kehidupan, yang menciptakannya sebagai kreasi menakjubkan yang paling bersinar serta menjadikannya sebagai hikmah rabbani yang cemerlang adalah Zat yang memeliharanya. Hanya Dia yang menjaga dan terus menyuplai rezeki untuknya.

Engkau ingin mengetahui buktinya?

Hewan yang paling lemah dan paling bodoh mendapatkan rezeki yang paling baik dan paling bagus. Misalnya ikan dan ulat. Makhluk yang paling lemah dan paling halus bisa mendapatkan makanan yang paling nikmat dan paling baik. Misalnya anak-anak kecil.

Agar engkau dapat memahami bahwa sarana untuk mendapatkan rezeki yang halal bukan berupa kekuatan dan ikhtiar manusia, melainkan kelemahan dan ketidakberdayaannya, cukuplah engkau membandingkan antara ikan yang bodoh dan serigala, antara anak-anak yang tidak memiliki kekuatan dan binatang buas pemangsa, serta antara pohon yang tegak berdiri dan hewan yang terengah-engah.

Orang yang memutuskan shalatnya lantaran sibuk mencari dunia sama seperti prajurit yang meninggalkan latihan dan paritnya kemudian meminta-minta di pasar. Sedangkan, orang yang mencari rezeki di dapur rahmat Tuhan Pemberi rezeki Yang Maha Pemurah setelah menegakkan shalat sehingga tidak menjadi beban bagi yang lain adalah baik dan memiliki wibawa. Hal itu pun bagian dari ibadah.

Selanjutnya fitrah manusia berikut sejumlah perangkat maknawi yang Allah tanamkan padanya menjadi bukti bahwa ia tercipta untuk beribadah. Sebab, mengenai kekuatan aktivitas yang diperlukan untuk kehidupan dunia manusia tidak akan mencapai tingkatan burung pipit yang paling rendah sekalipun. Namun, manusia merupakan pemimpin seluruh makhluk dilihat dari sisi ilmu, memohon melalui kepapahannya, serta ibadah yang diperlukan untuk kehidupan maknawi dan ukhrawinya.

Wahai jiwa, jika engkau menjadikan kehidupan dunia sebaga tujuan lalu mengarahkan seluruh potensimu padanya maka engkau tak ubahnya seperti burung yang paling hina.
Perang adalah perjuangan manusia melawan diri dan hawa nafsunya, menghindarkan diri dari dosa dari akhlak tercela.
Adapun jika engkau menjadikan kehidupan akhirat sebagai akhir impian serta mempergunakan kehidupan dunia sebagai sarana dan ladang untuk meraih akhirat, lalu engkau berusaha untuknya, maka engkau seperti pemimpin seluruh makhluk hidup dan hamba yang memohon dan tersayang di sisi Pencipta Yang Maha Pemurah. Engkau juga akan menjadi tamu yang mulai dan terhormat di dunia ini.
Di hadapanmu terdapat dua jalan, pilihlah mana yang kausuka!
Mintalah petunjuk dan taufik kepada Tuhan Yang Maha Penyayang.