Kisah Nabi Ilyas As.

Kisah Nabi Ilyas As. lengkap
Kisah Nabi Ilyas As. Nabi Ilyas As. adalah keturunan Nabi Harun yang ke-empat, Ia adalah putera Yasin bin Fanhash bin Aizar bin Harun. Nabi Ilyas As. di utus Allah kepada kaum Bani Israel , penduduk Baalbek, sebelah barat Kota Damaskus (Libanon Timur sekarang), kota ini didiami oleh bangsa Fenisia, yang merupakan bangsa pelaut terkenal. Bangsa ini menyembah berhala Ba'al. Sampai sekarang masih ada sebuah bangunan altar bernama Heliopolis yang diyakini sebagai tempat penyembahan bangsa Fenisia kepada Dewa Ba'al. Nama kota Baalbek sendiri diambil dari nama Baal, dewa bangsa Fenisia.

Dia mengajak kaumnya beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan penyembahan terhadap patung yang mereka namakan Ba'al. Hal inilah yang mengakibatkan mereka menganiayanya. Namun betapapun gigihnya Nabi Ilyas berdakwah, kaumnya tidak mau mendengarkannya. Maka Allah menghukum mereka dengan azab didunia dan akhirat.

Berhala Ba'al


Selepas kematian Nabi Sulaiman As., kerajaan telah mengalami perpecahan. Pengaruh syaitan telah berleluasa. Manusia yang beragama diejek-ejek. Undang-undang Somaria telah membu**h kebanyakan golongan yang mengetahui dan mengikuti akidah yang benar. Pengaruh kejahatan menjadi semakin buruk dan Allah telah menghantar Nabi Ilyas As. untuk memulihkan manusia pada zaman pemerintahan Raja Ahab dari Israil. Baginda berusaha berusaha bersungguh-sungguh untuk menyelamatkan manusia daripada mempercayai banyak tuhan dan melarang mereka menyembah berhala Ba'al.

Nabi Ilyas mendapat tugas dari Allah Swt. untuk menyadarkan kaum Bani Israil yang suka menyembah berhala Ba'al. Ilyas mengingatkan kaumnya, bahwa berhala yang mereka sembah itu bukan tuhan yang sebenarnya. Ia juga menyerukan agar mereka takut kepada Allah Swt. yang menciptakan alam semesta, dan menegaskan bahwa Allah Swt. adalah Tuhan para pendahulu mereka. Namun kaum Bani Israil mendustakan seruan Ilyas tersebut.

"Apakah kamu tidak takut pada siksaan Allah? Kenapa kamu menyembah berhala Ba'al dan mengabaikan Allah?" seruan itu dijawab, "Kami sudah sejak lama menyembah Ba'al, sejak nenek moyang kami, oleh karena itu kami tidak bisa meningglkan begitu saja."

Nabi Ilyas selalu dikejar dan dicari-cari oleh kaumnya untuk dibu**hnya. Oleh karena itu Nabi Ilyas lari menghindar untuk menyelamatkan diri, bersembunyi di rumah-rumah yang sepi dan kosong.
Berkat kekuasaan Allah, setiap rumah yang dimasuki Nabi Ilyas, maka disana sudah tersedia makanan. Akhirnya orang-orang mengetahui, setiap mereka memperoleh makanan dalam sebuah rumah, mereka mengatakan, "Pasti rumah ini sudah di masuki oleh Ilyas."

Ilyasa Anak Angkat Nabi Ilyas As.


Hingga nama Ilyasa (Nabi Ilyas As.) disebut dalam kisah Nabi Ilyas, yang saat itu dikejar-kejar oleh kaumnya dan bersembunyi di rumah Ilyasa. Maka besar kemungkinan Ilyasa juga tinggal di seputar lembah sungai Jordan. Ketika Ilyas bersembunyi di rumahnya, Ilyasa masih seorang belia. Saat itu ia tengah menderita sakit kemudian Ilyas membantu menyembuhkan penyakitnya. Setelah sembuh, Ilyasa pun menjadi anak angkat Ilyas yang selalu mendampingi untuk menyeru ke jalan kebaikan.

Bencana Kekeringan


Ilyas berulang kali memperingatkan kaumnya, namun mereka tetap durhaka. Karena itulah Allah Swt. menurunkan azab berupa kemarau panjang selama tiga tahun berturut-turut. Semua tanaman dan hewan mati karena kelaparan. Kaum Nabi Ilyas akhirnya menyadari kesalahan mereka. Mereka bersedia meninggalkan berhala dan berjanji tidak menyembahnya lagi. Karena mereka sadar, Nabi Ilyas memohon kepada Allah Swt. agar menurunkan hujan ke tengah- tengah kaumnya.

Namun setelah kembali menikmati kemakmuran hidup, kaum Nabi Ilyas kembali ingkar. Mengetahui kekufuran kaumnya, Nabi Ilyas pun berdoa agar Allah Swt. menarik kembali nikmat yang telah dicurahkan kepada kaumnya dan mereka kembali ditimpa bencana yang lebih dahsyat daripada bencana sebelumnya. Akhirnya kaum Nabi Ilyas kembali ditimpa musibah yang lebih berat daripada sebelumnya, yaitu gempa bumi yang dahsyat sehingga mereka mati bergelimpangan.

Nabi Ilyas As. Tetap Hidup Untuk Berdzikir


Sebuah riwayat menyebutkan, Nabi Ilyas Al-Nasyabi, yang mendapat panggilan Ibnu Yasin, di yakini masih hidup di Bumi. bersama Nabi Khidir. Sedangkan Nabi Isa dan Nabi Idris juga masih hidup di langit.

Nabi Ilyas As. dan Nabi Ilyasa As. bersama-sama mengemban misi dakwahnya kepada Bani Isra'il di Isra'il. Kurang lebih selama delapan tahun, Nabi Ilyas As hidup bersama Nabi Ilyasa As untuk menjalankan misi dakwahnya kepada Bani Isra'il.

Ketika itu mereka berdua berjalan-jalan ke sebelah timur sungai Yordan. Tiba-tiba datanglah angin badai disana dan akhirnya reda. Pada suatu hari, ketika Nabi Ilyas As. sedang beristirahat datanglah Malaikat Maut kepadanya. "Hai Ilyas, penuhilah panggilan Allah, kini saatnya nyawamu akan kujemput! Maka bersiap-siaplah, hai Ilyas!" kata Malaikat Maut. Mendengar berita itu, Nabi Ilyas As. menjadi sedih dan menangis. "Mengapa engkau bersedih, Ilyas?" tanya Malaikat maut. "Tidak tahulah" jawab Nabi Ilyas AS. "Apakah engkau bersedih karena akan meninggalkan dunia dan takut menghadapi kematian ?" tanya malaikat Maut. "Tidak. Tidak ada satupun yang aku sesali kecuali karena aku menyesal karena tidak bisa lagi berdzikir kepada Allah, sementara yang masih hidup bisa terus berdzikir memuji Allah," jawab Nabi Ilyas As.

Saat itu Allah Swt. lantas menurunkan wahyu kepada Malaikat Maut agar menunda pencabutan nyawa itu dan memberi kesempatan kepada Nabi Ilyas AS berdzikir sesuai dengan permintaannya. Nabi Ilyas As. ingin terus hidup semata-mata karena ingin berdzikir kepada Allah Swt. Maka berdzikirlah Nabi Ilyas AS sepanjang hidupnya.

Allah Swt. berfirman: "Biarlah Nabi Ilyas hidup di taman untuk berbisik dan mengadu serta berdzikir kepada-Ku sampai akhir nanti (hari kiamat)!". Mendengar firman Allah tersebut, maka Malaikat Maut tidak jadi mencabut nyawa Nabi Ilyas As. Maka selama-lamanya Nabi Ilyas As tidak akan pernah mati (tidak akan pernah meninggal dunia) kecuali di Hari Kiamat. Maka dibuatlah Nabi Ilyas As. tetap hidup abadi hingga hari kiamat, nyawa nya tidak dicabut, namun diri nya dijadikan ghaib oleh Allah Swt. sebagaimana Nabi Khidir yang tetap hidup namun diri nya dijadikan ghaib oleh Allah Swt. agar tidak bisa dilihat, didengar, dan diketahui keberadaannya oleh orang yang masih hidup di dunia.

Allah Swt. menjadikan Nabi Khidir As. dan Nabi Ilyas As. tetap hidup dan tidak pernah mati hingga hari kiamat kelak. Jasadnya dijadikan ghaib oleh Allah Swt. sehingga beliau tidak bisa diketahui akan keberadaannya sekarang. Allah Swt. menempatkan Nabi Khidir As. di tengah-tengah lautan, sedangkan Nabi Ilyas As. ditempatkan-Nya di tengah-tengah taman yang luas yang indah yang ada di tengah-tengah muka bumi ini, sambil terus-menerus dalam keadaan berdzikir kepada Allah Swt. dari dulu, dan detik ini, dan sampai wafatnya nanti di hari kiamat.

Imam Ad-Daraqathni meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas RA: "Nabi Khidir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun saat musim haji, dan mereka berdua saling mencukur kepala (Tahallul) satu sama yang lain". (Riwayat Ibnu 'Abbas RA).

Dalam Az-Zuhd riwayat Imam Ahmad dan Imam Thabarani dikatakan: "Nabi Khidir dan Nabi Ilyas bertemu setiap tahun pada saat musim haji, dan mereka berdua saling mencukur kepala (Tahallul) satu sama yang lain. Dan mereka berdua berpuasa Ramadhan di Baitul Maqdis!". (Menurut Ibnu Hajar, riwayat ini sanadnya hasan).

Di dalam Musnad Abu Usamah dikatakan: "Nabi Khidir di samudera dan Nabi Ilyas di daratan, mereka bertemu tiap malam di samping tembok yang dibuat oleh Dzulqarnain". (Lihat Syawahid Al-Haq pada halaman 200 tentang 4 hadits yang dibawakan oleh Ibnul Jauzi).

WaAllahu'Alam