Menempuh Jalan Kebahagiaan

Cerita imajiner islam berjudul Menempuh Jalan Kebahagiaan
Jika engkau ingin memahami dunia dan peran jiwa manusia di dalamnya, nilai agama bagi manusia dan bagaimana tanpa agama yang benar dunia akan berubah menjadi penjara menakutkan, bahwa seorang atheis merupakan makhluk yang paling menderita, bahwa yang bisa memecahkan misteri alam dan menyelamatkan jiwa manusia dari kegelapan hanyalah Allah, jika engkau ingin memahami semua itu perhatikan cerita imajiner berikut ini!

Dahulu kala, ada dua orang bersaudara yang bersama-sama melakukan sebuah perjalanan panjang. Akhirnya, perjalanan mereka sampai di persimpangan jalan. Di sana, mereka melihat seorang yang berwibawa dan mereka bertanya kepadanya, "Mana jalan yang paling baik di antara keduanya?"

Orang itu menjawab, "Di jalan sebelah kanan ada keharusan dan kewajiban untuk mengikuti hukum dan aturan. Namun, di dalam beban dan kewajiban tersebut terdapat keselamatan dan kebahagiaan.
Adapun jalan yang sebelah kiri berisi kebebasan. Namun, di balik kebebasan tersebut terdapat bahaya dan penderitaan. Sekarang kalian boleh memilih mana di antara keduanya."

Setelah mendengar ucapannya, saudara yang memiliki perangai baik memilih jalan kanan seraya berkata, "Aku bertawakal kepada Allah." Lalu ia berjalan dengan mengikuti hukum dan aturan yang ada. Sebaliknya, saudaranya yang lain yang bejar dan bebas lebih memilih jalan kiri karena sekedar mengikuti keinginan untuk bebas merdeka.

Sekarang perhatikan orang ini yang melewati jalan secara lahiriah mudah dan ringan, namun hakikatnya berat dan penat. Ketika telah melewati lembah yang dalam dan puncak yang tinggi ia masuk ke dalam padang pasir yang kosong. Ia pun mendengar suara yang menakutkan. Ternyata seekor singa besar telah keluar dari tempatnya sedang menuju kepadanya. Ia berlari karena takut dan cemas. Tidak lama kemudian ia bertemu dengan sumur tua sedalam enam puluh hasta. Ia melompat ke dalam sumur tersebut karena takut. Ketika jatuh ke dalam, kedua tangannya tersangkut di sebuah pohon sehingga bergantung padanya. Pohon itu memiliki dua akar yang tumbuh di tembok sumur. Pada keduanya terdapat dua ekor tikus, hitam dan putih. Kedua tikus tersebut sedang menggigit akar tadi dengan gigi mereka yang tajam. Ketika melihat ke atas, singa masih berdiri seperti menjaga di atas mulut sumur. Ketika melihat ke bawah, ada ular yang sangat besar sedang mengangkat kepala hendak mendekatinya sementara jaraknya sekitar tiga puluh hasta. Mulut ular itu besar, seluas sumur. Lalu ia juga melihat sejumlah serangga penganggu yang menyengat mengelilinginya. Kemudian ia melihat kepada pohon tersebut yang ternyata adalah pohon tin. Hanya saja, anehnya ia menghasilkan beragam buah, mulai dari kenari hingga delima.

Akibat kesalahpahaman dan kebodohannya, orang ini tidak memahami bahwa hal itu tidak lumrah. Tidak mungkin semua itu terjadi secara kebetulan. Ia juga tidak memahami bahwa semua persoalan aneh ini mengandung rahasia serta bahwa di balik semuanya ada yang mengatur dan menjalankannya.

Ketika kalbu orang itu menangis, lalu jiwanya meronta, dan akalnya terheran-heran terhadap kondisi pedih yang ia alami, tiba-tiba nafsunya yang memerintahkannya kepada keburukan mulai melahap sejumlah buah yang ada di pohon tanpa peduli dengan kondisi sekitar seolah-olah tak terjadi apa-apa. Ia menutup telinganya dari tangisan kalbu dan jiwa dengan menipu diri dengan dirinya sendiri. Padahal sebagian dari buah tadi sebenarnya beracun dan berbahaya.

Demikianlah, seperti yang disebutkan dalam hadis qudsi, "Aku bersama prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku." Artinya, Aku memperlakukan hamba-Ku sesuai pengetahuannya tentang diri-Ku. Orang malang itu menganggap semua yang dilihat sebagai hal biasa tanpa ada maksud dan seolah-olah sebagai sebuah kebenaran akibat dari prasangkanya yang buruk dan kebodohannya. Oleh karena itu ia diperlakukan dengan hal yang sama. Ia tidak mati agar selamat dari hal itu dan juga tidak hidup mulia. Demikianlah ia tersiksa dalam azab. Sekarang kita tinggalkan orang malang itu yang sedang
menderita azab untuk mengetahui kondisi yang terjadi pada saudara yang lain.

Orang yang berakal dan penuh berkah itu terus menempuh jalan tanpa mendapatkan kesulitan seperti saudaranya. Pasalnya, ia hanya memikirkan hal-hal indah karena memiliki akhlak mulia. Ia berkhayal tentang sesuatu yang indah dan baik. Karena itu, ia merasa nyaman dengan dirinya dan tidak menjumpai kesulitan sebagaimana saudaranya. Sebab, ia mengetahui aturan dan mengikutinya sehingga ia mendapat kemudahan. Ia berjalan merdeka dalam kondisi aman dan selamat.

Demikianlah ia berjalan sampai bertemu dengan sebuah kebun yang berisi bunga-bunga indah dan buah yang nikmat. Namun, di dalamnya juga terdapat bangkai binatang dan bau busuk yang bertebaran di sana-sini akibat kurang perhatian terhadap kebersihan. Saudaranya yang malang sebelumnya juga telah masuk ke kebun semacam itu. Hanya saja ia sebuk menyaksikan bangkai yang mati hingga merasa mual dan pusing. Akhirnya, ia meninggalkan kebun tadi tanpa mendapatkan kenyamanan untuk meneruskan perjalanan. Adapun saudara yang satu ini, ia melaksanakan kaidah yang berbunyi, "Lihatlah kepada hal terbaik dari segala sesuatu!" Maka, ia mengabaikan bangkai tersebut dan tidak menoleh kepadanya sama sekali. Bahkan, ia mengambil manfaat dari sesuatu yang baik yang terdapat di kebun. Setelah beristirahat di dalamnya ia pun meneruskan perjalanan.

Sebagaimana saudaranya, ia juga memasuki padang pasir yang luas. Tiba-tiba ia mendengar suara singa yang hendak menyerangnya. Ia pun merasa takut, namun tidak setakut saudaranya. Dengan berprasangka baik dan positif, ia berujar dalam hati, "Pasti ada yang menguasai padang pasir ini. Jadi, singa ini pasti merupakan salah satu pelayan yang berada di bawah perintahnya." Karena itu, ia merasa tenang. Namun, ia tetap berlari sampai bertemu dengan sebuah sumur tua sedalam enam puluh haste. Ia melompat ke dalamnya dan seperti saudaranya ia berpegang pada sebuah pohon yang berada di pertengahan sumur. Ia pun bergantung padanya. Ia melihat bahwa ada dua hewan yang sedang memotong akar pohon tersebut sedikit demi sedikit. Ketika melihat ke atas, ia melihat singa. Ketika melihat ke bawah terdapat seekor ular besar.

Lalu, sama seperti saudaranya, ia melihat dirinya dalam kondisi yang aneh. Ia juga takut dengan apa yang terjadi. Hanya saja tidak setakut saudaranya. Akhlaknya yang baik memberikan pemikiran yang bagus yang membuatnya selalu melihat sisi baik dari segala sesuatu. Karena itulah ia berpikir, "Semua hal menakjubkan ini pasti memiliki hubungan yang kuat antara satu dengan yang lain. Seakan-akan ada satu pemberi perintah yang menggerakannya. Jadi, semua yang terjadi pasti ada rahasia dan misteri. Ya, semua ini mengacu kepada perintah penguasa yang tersembunyi. Karena itu, aku tidak sendirian. Namun, penguasa yang tersembunyi itu pasti melihat, mengawasi, dan sedang mengujiku serta menggiringku kepada satu tempat dan mengajakku kepadanya."

Maka, dari cara berpikir yang positif dan rasa takut yang melahirkan kenikmatan semacam ini muncul sebuah pertanyaan, "Siapa yang mengujiku dan ingin memperkenalkan dirinya kepadaku? Siapa yang menggiringku di jalan aneh ini menuju suatu tujuan?" Kemudian dari rasa rindu untuk mengenal muncul rasa cinta kepada pemilik misteri tersebut. Dari cinta itu muncul keinginan untuk memecahkan misteri yang ada. Lalu dari keinginan tersebut tumbuh kehendak untuk mengambil kondisi yang diterima oleh sang pemilik misteri tadi sesuai dengan apa yang ia cintai dan ridai.

Setelah ia melihat ke bagian atas pohon. Ternyata ia adalah pohon tin. Namun, ujung dahannya berisi berbagai macam buah. Ketika itulah rasa takutnya menjadi lenyap sebab ia mengetahui dengan yakin bahwa pohon tin tersebut tidak lain merupakan indeks dan galeri. Sang penguasa tersembunyi memasang seluruh contoh buah yang terdapat dalam kebun dan tamannya di pohon tersebut lewat sebuah misteri dan cara menakjubkan. Hal itu sebagai petunjuk tentang berbagai makanan dan kenikmatan yang disediakan untuk para tamunya. Jika tidak, tentu sebuah pohon tidak akan bisa memberi buah sebanyak ribuan pohon. Setelah itu, ia mulai berdoa. Ia mendapat ilham untuk kunci pembuka misteri tadi. Ia berujar,

"Wahai penguasa negeri ini! Aku berada dalam genggamanmu. Aku berlindung kepadamu. Aku adalah pelayanmu. Aku mengharap ridamu. Aku mencarimu."

Seusai berdoa dinding sumur itu pun seketika terbelah. Tampak sebuah pintu menuju kebun yang rimbun, suci dan indah. Barangkali mulut ular itu berubah menjadi pintu tersebut. Sementara singa dan ularnya menjadi pelayan. Maka, keduanya mulai mengajaknya menuju kebun tadi hingga singa itu berubah bentuk menjadi kuda yang jinak.
Aku bersama prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku, Aku memperlakukan hamba-Ku sesuai dengan pengetahuannya tentang diri-Ku.
Wahai diri yang malas! Wahai sahabat dalam khayalan!

Marilah kita membandingkan antara kondisi kedua saudara di atas untuk mengetahui bahwa kebaikan menghasilkan kebaikan dan keburukan akan menghasilkan keburukan.

Musafir malang yang melewati jalan sebelah kiri itu setiap waktu berpotensi masuk ke mulut ular. Karenanya, ia senantiasa merasa takut dan cemas. Sementara, musafir yang berbahagia ini diajak ke kebun indah yang memiliki beragam buah. Lalu, kalbu orang malang itu tercabik-cabik dalam rasa takut yang luar biasa, sementara orang yang bahagia ini melihat segala sesuatu yang aneh sebagai sebuah pelajaran indah, rasa takut yang indah, dan pengetahuan yang disuka. Orang malang itu merasa sangat tersiksa akibat kesepian dan putus asa, sementara orang yang bahagia ini merasa nyaman dengan rasa harap dan rindunya. Selanjutnya, orang yang tidak beruntung itu melihat dirinya tersudut dengan beruntung ini menikmati keberadaannya sebagai tamu yang mulia. Ia merasa nyaman dan bersenang-senang dengan para pelayan tuan rumah yang pemurah sebagai tamu.

Orang yang tidak beruntung itu mempercepat siksanya dengan memakan makanan yang secara lahirnya nikmat namun pada hakikatnya beracun. Buah-buahan itu hanyalah contoh. Ia hanya diizinkan untuk dicicipi guna mengetahui hakikat yang sebenarnya dan menjadi konsumennya. Jika tidak, tidak diperbolehkan untuk melahapnya seperti hewan. Adapun orang yang beruntung dan mulia ini mencicipinya dengan penuh kesadaran. Ia menunda untuk memakannya dan menikmati masa penantiannya.

Lalu, orang yang malang itu telah berbuat zalim kepada dirinya sendiri dengan cara menempatkan diri pada kegelapan dan ilusi sehingga seolah-olah ia sedang berada di neraka jahim lantaran tidak melihat berbagai hakikat yang demikian terang laksana siang dan berbagai kondisi indah. Karenanya, ia tidak layak mendapat rasa kasihan dan tidak berhak mengeluh. Keadaannya sama seperti orang yang berada di tengah-tengah orang yang dicintai pada musim panas di sebuah taman indah dalam satu pesta kebahagiaan. Namun, karena tidak merasa puas dengannya ia mereguk minuman keras hingga mabuk. Akhirnya ia berteriak dan merintih serta mulai menangis. Ia menduga dirinya sedang berada di musim dingin yang luar biasa. Ia juga mengira dirinya sedang lapar, telanjang, dan berada di tengah-tengah binatang buas. Nah, apabila orang ini tidak layak dikasihani karena telah berbuat zalim kepada dirinya sendiri dengan menganggap teman sebagai binatang buas, demikian pula dengan musafir malang di atas.

Sebaliknya, orang beruntung ini melihat hakikat. Hakikat tersebut demikian indah. Dengan mengetahui keindahan hakikat yang ada ia juga menghormati kesempurnaan pemilik hakikat sehingga layak mendapat rahmat. Jadi engkau dapat mengetahui salah satu rahasia ayat yang berbunyi, "Kebaikan yang kauterima berasal dari Allah. Sementara, keburukan yang kauterima berasal dari dirimu sendiri."

Jika engkau membandingkan seluruh perbedaan di atas dan sejenisnya tentu engkau mengetahui bahwa nafsu ammarah milik orang pertama telah menghasilkan neraka maknawi dalam dirinya. Sementara, yang kedua lewat niat, prasangka, perangai, dan pikiran baiknya mendapatkan limpahan karunia, kebahagiaan, dan kebaikan.

Wahai diriku! Wahai yang ikut memperhatikan cerita di atas!

Jika engkau tidak ingin menjadi seperti orang malang di atas dan ingin menjadi seperti saudaranya yang beruntung, perhatikan Al-Qur'an, tunduk dan berpeganglah padanya serta amalkan hukum-hukumnya.

Jika engkau telah memahami berbagai hakikat yang terdapat dalam cerita singkat di atas, engkau dapat menerapkan hakikat agama, dunia, manusia, dan iman pada keseluruhannya. Aku akan menjelaskan pilar-pilar dasarnya, lalu detail-detailnya bisa kau simpulkan sendiri.

Kedua orang saudara di atas, yang satu ruh seorang mukmin dan hati orang yang saleh, sementara yang lainnya ruh orang kafir dan hati orang fasik. Adapun jalan sebelah kanan adalah Al-Qur'an dan jalan iman, sementara jalan sebelah kiri adalah jalan maksiat dan kekufuran. Sementara kebun yang terdapat di jalan adalah kehidupan sosial yang bersifat temporer dalam masyarakat dan peradaban manusia bahwa di dalamnya terdapati kebaikan dan keburukan, serta sesuatu yang suci dan kotor. Orang berakal adalah yang melaksanakan kaidah, "Ambil yang bersih dan tinggalkan yang kotor!" Maka, ia berjalan dengan kalbu yang sehat dan jiwa yang tenang.

Selanjutnya padang pasir itu berupa dunia dan bumi ini. Singanya berupa ajal dan kematian. Sumurnya berupa jasad manusia dan rentang waktu kehidupan. Kedalamannya yang mencapai enam puluh hasta adalah petunjuk tentang usia pada umumnya. Rata-rata usia manusia adalah enam puluh tahun. Lalu pohon tersebut berupa rentang usia dan kehidupan. Selanjutnya, kedua hewan yang ada, yakni yang putih dan hitam, ia adalah malam dan siang. Ularnya berupa mulut kubur yang terbuka sampai menuju jalan barzakh dan gerbang akhirat. Hanya saja, mulut tadi bagi orang mukmin merupakan pintu yang terbuka dari penjara menuju kebun. Kemudian, sejumlah serangga berbahaya merupakan aneka musibah di dunia. Hanya saja, bagi orang mukmin, ia seperti peringatan Tuhan agar tidak lalai.

Buah-buahan yang terdapat di pohon itu adalah berbagai nikmat duniawi yang diciptakan Tuhan guna menjadi daftar kenikmatan akhirat karena memiliki kemiripan dengannya. Allah Yang Mahabijak telah menciptakannya sebagai model dan contoh guna mengajak mereka kepada buah-buahan surga. Keberadaan sebuah pohon yang memberikan beragam buah menjadi isyarat atas tanda kekuasaan Allah, stempel rububiyah-Nya dan cap kekuasaan uluhiyah. Pasalnya, Dia menciptakan segala sesuatu dari yang satu. Artinya, Dia menciptakan seluruh tumbuhan dan buahnya dari satu tanah, menjadikan seluruh hewan dari satu air, serta menciptakan seluruh perangkat hewani dari makanan yang sederhana. Sebaliknya, Dia menciptakan sesuatu dari segala sesuatu. Misalnya pembuatan daging tertentu dan kulit sederhana pada makhluk hidup dari makanan yang beraneka macam. Semua itu adalah tanda dan stempel khusus serta cap yang tak bisa ditiru dari Penguasa azali dan abadi yang merupakan Zat Yang Maha Esa dan menjadi sandaran segala sesuatu.

Ya, penciptaan sesuatu dari segala sesuatu serta penciptaan segala sesuatu dari sesuatu adalah atribut yang kembali kepada Sang Pencipta segala sesuatu dan tanda istimewa milik Zat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.

Selanjutnya misteri yang ada merupakan rahasia hikmah penciptaan yang terbuka oleh rahasia iman. Kuncinya berupa Allahu la ilaha illa huwal Hayy all-Qayyûm, ya Allah, dan lâ ilaha illallah.
Kemudian perubahan mulut ular menjadi pintu kebun adalah simbol bahwa kubur merupakan tempat yang meyulitkan seperti penjara dan ibarat perut naga yang sempit dalam keadaan sendiri dan terlupa bagi kaum yang sesat dan melampaui batas. Akan tetapi, bagi kaum beriman dan kaum yang dekat dengan Al-Qur'an ia merupakan pintu yang terbuka, dari penjara dunia menuju kebun keabadian, dari medan ujian menuju taman surga, dari sulitnya hidup menuju kasih sayang Tuhan. Adapun berubahnya singa yang buas menjadi kuda yang jinak dan pelayan adalah petunjuk bahwa kematian bagi kaum yang sesat merupakan perpisahan yang abadi yang menyakitkan dengan semua orang yang dicinta, serta kondisi keluar dari surga dunia yang palsu menuju penjara kubur. Sementara, bagi kaum yang mendapat petunjuk dan ahlul quran kematian merupakan perjalanan menuju alam lain, sarana untuk bertemu dengan para kekasih dan teman lama, media untuk masuk ke tanah air hakiki dan tempat kebahagiaan abadi, undangan untuk keluar dari penjara dunia menuju kebun surga, dan penantian untuk mengambil upah pengabdian sebagai bentuk karunia dari Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kematian merupakan masa berakhirnya tugas manusia menjadi hamba, masa untuk melepaskan beban-beban duniawi.
Kematian merupakan masa berakhirnya tugas manusia menjadi hamba, masa untuk melepaskan beban-beban duniawi
Dari semuanya kita dapat menyimpulkan bahwa setiap orang yang menjadikan kehidupan fana sebagai tujuannya maka ia akan berada di neraka jahim, meskipun secara lahiriah ia tampak berada dalam surga.

Sebaliknya, siapa yang mengarah kepada kehidupan abadi serta berusaha secara sungguh-sungguh dan ikhlas untuk mendapatkannya maka ia akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Bahkan meskipun kehidupan dunianya buruk dan sempit, ia akan melihatnya manis dan indah serta akan melihatnya sebagai aula penantian bagi surganya. Karenanya, ia dapat menjalani sekaligus mensyukurinya dengan penuh kesabaran.

Ya Allah jadikan kami termasuk mereka yang mendapatkan kebahagiaan, keselamatan, Al-Qur'an dan iman. Aamiin.
Ya Allah, sampaikan salawat dan salam kami kepada junjungan kami, Muhammad, serta kepada keluarga dan sahabatnya, sebanyak huruf yang terbentuk pada seluruh kata yang dengan izin Allah terwujud pada cermin gelombang udara di saat membaca setiap kata Al-Qur'an yang keluar dari mulut pembaca, dari awal turun hinga akhir zaman.
Kasihi kami, orangtua kami, serta kaum mukmin dan mukminah sebanyak itu pula lewat rahmat-Mu wahai Zat Yang Maha Pengasih. Aamiin.
Alhamdulillahi Rabbil alamin.