Pengertian, Hukum dan Macam-Macam Riba dalam Islam

Pengertian riba, hukum riba dalam islam, dan macam-macam riba
Pengertian Riba


Riba adalah bunga uang atau nilai lebih atas penukaran barang. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Hal ini terjadi dalam pertukaran bahan makanan, perak, emas, dan pinjam-meminjam. Menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam juga disebut sebagai Riba.

Riba, apapun bentuknya, dalam syariat Islam hukumnya haram. Sanksi hukumnya juga sangat berat. Diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan bahwa, "Rasulullah mengutuk orang yang mengambil riba, orang yang mewakilkan, orang yang mencatat, dan orang yang menyaksikannya." (HR. Muslim). Dengan demikian, semua orang yang terlibat dalam riba sekalipun hanya sebagai saksi, terkena dosanya juga.

Guna menghindari riba, apabila mengadakan jual-beli barang sejenis seperti emas dengan emas atau perak dengan perak ditetapkan syarat:

a.) sama timbangannya; atau
b.) dilakukan serah terima saat itu juga,
c.) secara tunai.

Apabila tidak sama jenisnya, seperti emas dan perak boleh berbeda tukarannya, namun tetap harus secara tunai dan diserahterimakan saat itu juga. Kecuali barang yang berlainan jenis dengan perbedaan seperti perak dan beras, dapat berlaku ketentuan jual-beli sebagaimana barang-barang yang lain.

Macam-macam Riba


a.) Riba Fadli, adalah pertukaran barang sejenis yang tidak sama timbangannya. Misalnya, cincin emas 22 karat seberat 10 gram ditukar dengan emas 22 karat namun seberat 11 gram. Kelebihannya itulah yang termasuk riba.

b.) Riba Qordi, adalah pinjam-meminjam dengan syarat harus memberi kelebihan saat mengembalikannya. Misal si A bersedia meminjami si B uang sebesasr Rp. 100.000,00 asal si B bersedia mengembalikannya sebesar Rp. 115.000,00. Bunga pinjaman itulah yang disebut riba.

c.) Riba Yadi, adalah akad jual-beli barang sejenis dan sama timbangannya, namun penjual pembeli berpisah sebelum melakukan serah terima. Seperti penjualan kacang, ketela yang masih di dalam tanah.

d.) Riba Nasi'ah, adalah akad jual-beli dengan penyerahan barang beberapa waktu kemudian. Misalnya, membeli buah-buahan yang masih kecil-kecil di pohonnya, kemudian diserahkan setelah besar-besaran atau setelah layak dipetik. Atau, membeli padi di musim kemarau, tetapi diserahkan setelah panen.

1 comments so far

Terima kasih.. Dengan membaca artikel ini wawasan saya tentang ekonomi syariah bertambah.
Ekonomi syariah memang memiliki banyak manfaat dalam penerapannya. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Pariwisata Indonesia yang bisa anda kunjungi di Ilmu Ekonomi Syariah