Rahasia Mengimani yang Gaib

Cerita imajiner islam berjudul Rahasia Mengimani yang Gaib
Jika engkau ingin mengetahui kadar kebahagiaan dan kenikmatan iman, perhatikan cerita singkat berikut ini.

Pada suatu hari, dua orang lelaki melakukan perjalanan rekreasi dan bisnis dengan tujuan berbeda. Orang yang satu berwatak egois dan bernasib malang, yang satu lagi taat dan hidupnya bahagia.

Orang egois dan sombong yang pesimis itu mendatangi satu daerah yang menurutnya sangat buruk dan sial. Bahkan kemanapun pergi ia melihat orang-orang lemah dan fakir yang berteriak meminta tolong akibat akibat pukulan orang-orang yang kejam dan bengis. Ia melihat kondisi yang memilukan dan menyedihkan di setiap tempat yang ia kunjungi. Sehingga dalam pandangannya, seluruh kerajaan telah menjadi seperti tempat ratapan umum. Ia merasa satu-satunya obat bagi keadaannya yang menyedihkan dan gelap itu adalah mabuk. Akhirnya ia buat dirinya mabuk agar tidak merasakan keadaan yang sering menimpa. Pasalnya, setiap orang di negeri itu baginya tampak sebagai musuh yang sedang menantikannya, atau orang asing yang tidak bersahabat dengannya. Batinnya terus tersiksa lantaran melihat sejumlah jasad menakutkan dan anak-anak yatim yang menangis putus asa.

Adapun orang kedua yang taat, mengabdi kepada Allah, dan mencari kebenaran memiliki akhlak terpuji, ia menjumpai sebuah kerajaan yang baik yang dalam pandangannya sangat indah dan menakjubkan. Orang saleh tersebut melihat dalam kerajaan yang ia masuki sejumlah pesta mengagumkan dan festival yang demikian indah. Pada setiap sisi ia melihat kegembiraan dan suka cita. Serta pada setiap tempat ia melihat mihrab tempat zikir. Bahkan ia melihat setiap orang yang tinggal di kerajaan itu sebagai sahabat akrab yang dicinta. Kemudian ia melihat pada pesta pembebasan tugas bagaimana seluruh kerajaan memperlihatkan yel-yel kegembiraan lewat teriakan yang disertai kalimat pujian dan sanjungan. Ia juga mendengar suara orkestra yang menampilkan lagu-lagu semangat yang disertai takbir dan tahlil dengan penuh bahagia dan bangga untuk mereka yang digiring menuju medan pengabdian dan keprajuritan.

Orang pertama yang merasa sial sibuk dengan penderitaannya dan penderitaan semua manusia, sementara orang kedua yang bahagia dan optimis bergembira bersama dengan kegembiraan seluruh manusia. Di samping itu, ia mendapat bisnis yang baik dan penuh berkah sehingga bersyukur dan memuji Tuhan.

Ketika pulang ia bertemu dengan orang pertama tadi dan bertanya tentang keadaannya. Setelah mengetahui segala hal tentangnya ia berkata, "Wahai Fulan, engkau telah menjadi gila. Rasa sial yang tertanam dalam jiwamu terpantul dalam kondisi lahiriahmu sehingga engkau menganggap semua senyuman sebagai ratapan dan tangisan serta pembebasan tugas sebagai perampasan. Karena itu sadarlah dan bersihkan kalbumu agar selubung keruh tersebut hilang dari matamu, sehingga engkau bisa melihat hakikat. Pasalnya, pemilik dan penguasa kerajaan ini sangat adil, kasing sayang, kuasa, mengatur dan mencipta. Kerajaan yang demikian tinggi dan mulia ini lewat jejak yang terlihat oleh penglihatanmu tidak mungkin seperti berbagai gambaran yang diberikan oleh ilusimu."

Setelah itu, orang malang tadi mulai sadar dan menyesal. Ia berkata, "Ya, aku dibuat gila akibat banyak mabuk. Semoga Allah meridaimu. Engkau telah menyelamatkan diriku dari neraka penderitaan."

Wahai diri, ketahuilah bahwa orang pertama itu adalah orang fasik yang lalai. Dunia ini dalam pandangannya seperti ratapan umum, sementara seluruh makhluk hidup laksana para yatim yang menangis karena terpukul akibat perpisahan. Manusia dan hewan dianggap sebagai makhluk liar tanpa pemilik dan penggembala. Ia tercabik-cabik oleh cengkeraman ajal. Lalu benda-benda besar seperti gunung dan lautan diibaratkan seperti jenazah yang tak bergerak dan mayat yang menakutkan. Tentu saja ilusi yang menyakitkan tersebut bersumber dari sikap kufur dan sesat membuat pemiliknya tersiksa.

Adapun orang kedua adalah orang mukmin yang mengenal Penciptanya dengan baik dan memercayai-Nya. Dalam pandangannya, dunia ibarat tempat zikir kepada Allah Swt., aula tempat pengajaran dan pelatihan semua manusia dan hewan, serta medan ujian bagi jin dan manusia. Sementara kematian yang dialami oleh hewan dan manusia merupakan bentuk pembebasan tugas. Mereka telah menyelesaikan tugas hidup berpisah dengan dunia yang fana ini dalam kondisi gembira. Pasalnya, mereka dipindah ke alam lain yang tidak dihiasi oleh kerisauan guna memberikan ruang bagi para petugas baru yang datang untuk melaksanakan tugas mereka.

Selanjutnya seluruh anak yang lahir entah itu hewan ataupun manusia laksana konvoi militer dengan senjata lengkap untuk suatu tugas dan kewajiban. Setiap entitas tidak lain merupakan pekerja dan prajurit yang gembira serta petugas yang istikamah dan ridha. Lalu suara dan gema yang terdengar di seluruh penjuru dunia merupakan bentuk zikir dan tasbih dalam melaksanakan tugas, bentuk syukur dan tahlil sebagai pemberitahuan dari kerinduan dan kecintaan terhadap pekerjaan yang ada.

Jadi, seluruh entitas dalam pandangan mukmin merupakan pelayan yang bersahabat, pekerja yang akrab dan tulisan yang indah Tuhannya Yang Maha Pemurah dan Pemiliknya Yang Maha Penyayang. Demikianlah, lewat keimanannya banyak sekali hakikat yang sangat halus, mulai dan nikmat semacam itu yang tampak.

Jadi, iman benar-benar berisi benih maknawi yang berasal dari pohon Tuba surga. Sebaliknya, kekufuran menyimpan benih maknawi yang diembuskan oleh pohon zaqqum jahanam. Karena itu, keselamatan dan kedamaian hanya terdapat dalam Islam dan iman.

Maka itu, kita harus selalu mengucap, "Alhamdulillah atas karunia agama Islam dan kesempurnaan iman."
Kematian yang dialami oleh hewan dan manusia merupakan bentuk pembebasan tugas. Mereka yang telah menyelesaikan tugas hidup berpisah dengan dunia yang fana ini dalam kondisi gembira.