Bentuk, Jenis, dan Contoh Peninggalan Sejarah di Indonesia Beserta Maknanya

Pengertian Peninggalan Sejarah di Indonesia beserta bentuk, jenis, contoh dan maknanya
Sejarah merupakan kisah atau cerita yang mengupas peristiwa kehidupan manusia pada masa lalu. Walaupun kita tidak hidup di masa lalu, kita tetap dapat mengetahui peristiwa itu melalui peninggalan-peninggalan sejarah khususnya di Indonesia.

Peninggalan sejarah adalah segala bentuk peninggalan masa lalu yang dapat digunakan untuk mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di masa lampau.

Indonesia memiliki banyak peninggalan sejarah. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut berupa bangunan, karya sastra, adat istiadat, dan budaya. Peninggalan sejarah disebut juga sumber sejarah. Sumber sejarah dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Sumber lisan, yaitu keterangan lisan dari pelaku atau saksi sejarah;
2. Sumber tulisan, yaitu keterangan tertulis mengenai suatu peristiwa sejarah;
3. Sumber benda, yaitu berupa benda-benda peninggalan masa lampau.

Jenis-Jenis Peninggalan Sejarah di Indonesia

Berdasarkan jenisnya, peninggalan sejarah di Indonesia dapat dikelompokkan sebagai berikut.

1. Bangunan

Peninggalan sejarah berupa bangunan, antara lain candi, relief, dan gapura. Sisa peninggalan Kerajaan Singashari berupa Candi Kagenengan, Candi Jago, Candi Singashari, dan Candi Kidal. Peninggalan Kerajaan Majapahit berupa Candi Tikus, Candi Tegalwangi, Candi Surawana, Candi panataran, dan Candi Sawenta. Candi Muara Takus merupakan peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya.

2. Prasasti dan Karya Seni Ukir

Contoh seni ukir peninggalan sejarah, antara lain arca, relief di candi, dan patung-patung Buddha. Prasasti adalah batu yang di dalamnya terdapat tulisan. Contoh prasasti peninggalan sejarah, antara lain Prasasti Ciaruteun, Prasasti Amogapasha, dan lainnya.

Peninggalan Kerajaan Kutai disebut Yupa, ditemukan di aliran Sungai Mahakam Kalimantan Timur. Peninggalan Kerajaan Tarumanegara berupa tujuh buah prasasti, yaitu Prasasti Ciaruteun, Pasir Jambu, Kebon Kopi, Pasir Awi, Muara Ciateun, Cidanghiang, dan Prasasti Tugu. Pada Prasasasti Ciaruteun terdapat gambar telapak kaki Raja Purnawarman. Peninggalan Kerajaan Kediri adalah Prasasti Padiegan, Prasasti Weleri, dan Prasasti Jaring.

Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan bercorak Buddha yang meninggalkan enam prasasti, yaitu Prasasti Kedukan Bukit (684 M), Prasasti Talang Tuo (684 M), Prasasti Telaga Batu, Prasasti Kota Kapur (686 M), Prasasti Karang Berahi, dan Prasasti Palah Pasemah.

3. Karya Sastra

Karya sastra berupa kitab biasanya menceritakan kisah suatu kerajaan. Contohnya Negarakertagama sebuah kitab yang menceritakan Kerajaan Majapahit. Kitab–kitab yang ditulis pada masa Kediri, antara lain Kitab Jangka Jayabaya yang merupakan kitab ramalan Raja Jayabaya. Adapun Kitab Smaradhana merupakan karya sastra yang ditulis oleh Mpu Dharmaja. Kitab Bharatayudha ditulis oleh Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Kitab Hariwangsa dan Gatotkacasraya ditulis oleh Mpu Panuluh dan Mpu Sedah. Kitab sastra pada zaman Majapahit, antara lain Kitab Negarakertagama ditulis oleh Mpu Prapanca, Kitab Sutasoma ditulis oleh Mpu Tantular, dan Kitab Arjuna Wiwaha karangan Mpu Tantular. Kitab Pararaton mengisahkan per tempuran berdarah yang terjadi pada ke turunan Ken Arok.

3. Masjid

Masjid merupakan peninggalan kebudayaan umat Islam. Masjid merupakan bangunan ibadah bagi umat Islam. Masjid dibangun pada masa kerajaan Islam berkembang di Nusantara.

4. Benteng Pertahanan

Benteng merupakan tembok pertahanan yang dibangun untuk bertahan dari serangan musuh. Benteng-benteng buatan pemerintah kolonial Belanda diberbagai daerah di Indonesia, seperti Fort van der Cappelen dan Fort de Kock (Sumatra Barat), Benteng Sao Paulo, serta benteng-benteng peninggalan Portugis, spanyol, Inggris, dan Belanda di Maluku. Benteng itu juga merupakan simbol perlawanan bangsa Indonesia melawan para penjajah.

5. Peninggalan Kerajaan-Kerajaan Islam

Peninggalan-peninggalan sejarah dari Kerajaan yang bercorak Islam di Indonesia di antaranya sebagai berikut.
a. Peninggalan berupa masjid, antara lain Masjid Raya Baiturahman (Nanggroe Aceh Darussalam), Masjid Raya Medan (Sumatra Utara), dibangun oleh Sultan Deli bernama Makmun Al Rasyid Perkasa Alam),Masjid Raya Banten (didirikan oleh Sultan Maulana Yusuf). Masjid Demak (didirikan oleh Raden Patah), dan Masjid Sultan Suriansyah (masjid pertama di Pulau Kalimantan, di dirikan pada masa kekuasaan Pangeran Suriansyah pada abad ke-16).

b. Peninggalan berupa istana, antara lain Istana Maimun (peninggalan Kerajaan Deli. Terletak di Kota Medan. Dibangun pada 1888 oleh Sultan Makmun Perkasa Alam) dan Istana Siak Sri Indrapura (peninggalan Kerajaan Melayu Riau) dibangun pada 1889 oleh Teungku Ngah Sayed Hasyim).

c. Peninggalan sejarah berupa budaya, antara lain Upacara Grebeg Besar (Demak), Pesta Tabuik (Pariaman, Sumatra Barat), Dhug Dher (Semarang), dan Seni tradisional dari Betawi Gambang Kromong, dan Orkes Gambus.

Makna Peninggalan Sejarah di Indonesia

Peninggalan sejarah merupakan salah satu kekayaan bangsa. Peninggalan sejarah harus selalu dijaga. Peninggalan sejarah merupakan alat bagi kita untuk mengetahui dan mempelajari sejarah di masa lalu.

Melalui peninggalan sejarah kita dapat mempelajari kisah terbentuknya negara dan kisah perjuangan para pahlawan kita merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Melalui sejarah, kita juga dapat mengambil pelajaran-pelajaran positif yang dapat dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaat yang dapat kita peroleh dengan mempelajari sejarah adalah sebagai berikut.
a. Kita dapat mempelajari nilai-nilai baik sejarah.
b. Kita akan menjadi bangsa yang menghargai jasa pahlawan.
c. Kita dapat mengetahui sejarah bangsa.
d. Kita dapat menjadi bangsa yang berbudaya tinggi.

Begitu banyak manfaat yang diperoleh dari mempelajari sejarah. Oleh karena itu, kita harus menjaga dan melestarikan peninggalan sejarah. Beberapa cara yang dapat kita lakukan, antara lain sebagai berikut.
a. Tidak merusak peninggalan sejarah dan mengambil peninggalan sejarah tersebut untuk kepentingan pribadi.
b. Ikut menjaga kebersihan benda bersejarah di antaranya dengan tidak mencoret-coret dan mengotorinya.
c. Turut mempromosikan peninggalan sejarah tersebut agar menjadi tujuan wisata.
d. Tidak menjual benda yang berupa peninggalan sejarah bangsa.