Hukum Poligami Sembunyi-Sembunyi

Hukum Poligami Sembunyi-Sembunyi
Yang dimaksud poligami sembunyi-sembunyi atau secara diam-diam memiliki dua kemungkinan. Pertama, seorang laki-laki melakukan pernikahan kedua dan seterusnya tanpa memberitahukan kepada istri yang pertama. Kedua, seorang laki-laki menikahi istri kedua tanpa memberitahukan kepadanya bahwa dia sudah memiliki istri pertama.

Berkaitan dengan hal tersebut, pada prinsipnya kedua kondisi pernikahan tersebut hukumnya sah, sebab kaum lelaki tidak memiliki kewajiban untuk memberitahu atau mendapat izin siapa pun untuk menikah, baik pernikahan pertama, kedua dan seterusnya. Hal ini berbeda dengan perempuan yang wajib mendapatkan izin dari walinya.

Untuk kemungkinan yang pertama, meskipun pernikahan tersebut sah, namun secara hukum positif tidak dapat dilakukan. Sebab berdasarkan undang-undang, pernikahan kedua hanya bisa dilakukan (didaftarkan di KUA) dengan adanya izin dari istri pertama. Artinya pernikahan tersbut hanya bisa dilakukan secara Sirri (tidak didaftarkan kepada pemerintah).

Hal ini akan menimbulkan konsekuensi baru, yaitu hilangnya perlindungan terhadap istri kedua. Meskipun sang suami awalnya tidak berniat melakukan kezaliman, tetapi di perjalanan pernikahan tersebut, bisa jadi setan menggoda dan menggoyahkan rumah tangga. Maka hal ini tentu akan merugikan pihak istri kedua.

Oleh karena itu, sekalipun menikah tanpa izin istri pertama hukumnya sah, alangkah baiknya suami bermusyawarah terlebih dahulu, sebab Allah SWT. memerintahkan demikian.

Adapun kemungkinan kedua, meskipun pernikahannya sah, tetapi perbuatan suami yang menyembunyikan statusnya sebagai suami bagi istri pertama, tentu akan menyakiti hati istri kedua dan keluarganya. Bahkan hal ini bisa dikategorikan berdusta, sebab logikanya tentu sang suami mengaku masih bujang atau duda kepada istri kedua tersebut. Dan perbuatan dusta adalah perbuatan tercela bahkan akan mengantarkan kepada dosa-dosa lain yang lebih besar. Rasulullah SAW bersabda,
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
"Hendaklah kalian berbuat jujur, sebab kejujuran itu akan mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan mengantarkan ke surga. Dan seseorang yang terus menerus berbuat jujur dan mengusahakan kejujuran sehingga akan dicatat di sisi Allah sebagai orang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta, sebab dusta itu mengantarkan kepada dosa-dosa, dan dosa-dosa itu akan mengantarkan ke neraka. Dan seseorang yang terus menerus berdusta, dan mengusahakan berdusta sehingga akan tercatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta." (H.R. Muslim)

Selain itu, pernikahan seperti ini akan menggoyahkan tujuan pernikahan yaitu menggapai rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

Kesimpulannya, pernikahan mesti didasari oleh niat yang baik yaitu menunaikan sunah Rasulullah SAW. dan dilakukan dengan cara yang baik pula. Wallaahu A'lam.

Bersumber dari konsultasi syariah buletin Risalah Jum'ah edisi 15 Muharram 1439H - 06 Oktober 2017.

2 comments

mohon maaf, berdasarkan KHI ( kompilasi hukum Islam ) indonesia, bahwa sebelum melakukan poligami, calon suami ( bagi calon istri baru ) harus meminta terlebih persetujuan terlebih dahulu kepada istri ( atau istri-istri ) terdahulunya.

terima kasih

betul pak, untuk hukum di indonesia yah,