Bab 19: Materialisme Dan Pertempuran Di Dalam Diri Kita - The Diary Of Dajjal

Materialisme dan Pertempuran Di Dalam Diri Kita
Dikutip dari buku The Diary Of Dajjal Bab 19: Materialisme Dan Pertempuran Di Dalam Diri Kita. BAGIAN ini akan memaparkan tentang salah satu ujian terberat umat manusia. Ujian ini adalah pertempuran melawan diri kita sendiri. Ada sebuah cuplikan menarik dalam salah satu film besutan Mel Gibson berjudul Apocalypto yang berkaitan dengan hal ini. Dalam salah satu adegannya, diperlihatkan seorang tetua suku tengah memberi wejangan kepada warganya.

Seorang tetua suku bercerita, "Dan seorang manusia duduk menyendiri. Terpuruk dalam kesedihan. Semua binatang mendekatinya dan berujar: "Kami tidak senang melihatmu bersedih. Mintalah apapun kepada kami, dan kami akan memberikannya."

"Aku ingin penglihatan yang baik." kata manusia itu.
"Ambillah mataku ini," kata si burung manyar.
"Aku ingin menjadi kuat," si manusia meminta.
"Kau akan kuat seperti diriku," kata macan tutul.
"Aku ingin mengetahui rahasia bumi," si manusia melanjutkan.
"Akan kutunjukkan rahasia bumi kepadamu," kata ular naga menjawab.

Begitulah para binatang itu berkata-kata. Dan ketika manusia itu memperoleh semua anugerah yang bisa diberikan oleh binatang-binatang itu, dia meninggalkan mereka.

"Sekarang manusia mengetahui sangat banyak hal dan mampu melakukan sangat banyak hal..," kata si burung hantu kepada semua binatang.

"Manusia itu memiliki segala yang dibutuhkannya. Kini kesedihannya akan berakhir," kata si rusa.

"Tidak. Kulihat sebuah lubang di dalam diri Manusia...," si Burung Hantu menyela, "Lubang dalam seperti perut lapar yang tak akan pernah terpuaskan. Itulah yang membuat Manusia itu bersedih dan membuatnya menginginkan banyak hal. Dia akan mengambil dan terus mengambil. Sampai suatu hari dunia akan berkata: "Tidak lagi. Tak ada lagi yang bisa kuberikan padamu."

Dialog film itu menggambarkan materialisme dan keinginan untuk memperoleh lebih banyak lagi yang merupakan ujian bagi manusia. Mampukah kita mengalahkan kesenangan duniawi agar dapat memusatkan perhatian terhadap "gizi" bagi jiwa dan kedamaian diri, yang semua itu diwujudkan demi mendapatkan surga abadi?

Buku ini telah memaparkan bagaimana sistem tersebut hanya memusatkan perhatian kepada berbagai kesenangan duniawi, yang dibangun untuk mengikat kita kepada ilusi duniawi. Tanyalah kepada diri kita sendiri, mengapa seperti itu?

Ad-dunya dalam bahasa Arab berarti duniawi. Di dalam Islam, kata ini memiliki konotasi negatif. Sementara al-akhirah memiliki arti kehidupan abadi setelah kehidupan dunia. Dalam salah satu pidatonya, Syeikh Hamza Yusuf menjelaskan makna ad-dunya, sebagai berikut,

"Kita semua mengetahui arti ad-dunya dalam bahasa Arab. Ad-dunya adalah elemen ilusi di bumi yang akan menjauhkan manusia dari akhirat, dan hal itu merupakan permainan setan. Permainan ini dimainkan untuk menjauhkan umat manusia (dari kebenaran). Setan bermaksud untuk membuat jarak dan menjadikan kita merasa bahwa ad-dunya-lah yang berada dekat dan bukannya al-akhirah.

Islam meyakini ad-dunya sebagai hal yang jauh. Salah satu makna dasar dari ad-dunya adalah menjangkau sesuatu yang tidak akan pernah benar-benar bisa dijangkau, sebab sifat ad-dunya adalah tidak terjangkau. Ad-dunya akan selalu mengelak dari siapapun yang mengejarnya. Nabi Muhammad SAW. dalam hadisnya berkata,

"Jika seorang anak Adam (telah) memiliki sebuah gunung emas, maka ia akan menginginkan gunung emas yang kedua."

Dalam keseharian, kita menyaksikan bagaimana orang-orang terus-menerus menumpuk harta dan benda, dan selalu merasa kurang. Sebanyak apapun benda atau harta yang dimiliki, tetap dirasa kurang, sehingga kita selalu berusaha untuk menambah harga dan benda, bahkan sering dengan menghalalkan segala cara.

Perhatikan di sekeliling kita, apakah yang dikejar manusia di dunia ini? Mereka tidak lain mengejar uang, kekuasaan, materi, kecantikan atau ketampanan fisik. Banyak sekali iklan yang menawarkan benda-benda atau ajakan untuk memperoleh kesenangan fisik. Contohnya, "Sewa mobil impianmu" dengan ilustrasi sebuah mobil mewat yang disewakan, atau "Gunakan obat-obatan terlarang" yang menawarkan kesenangan fisik yang semu.

Dapat dijumpai bahwa semua yang dikejar manusia hanya berdasarkan kepada kesenangan fisik semata. Inikah yang selayaknya ditawarkan dunia kepada kita? Boleh saja manusia mengejar apapun yang diinginkan, namun lambat laun mereka akan menyadari apa yang sebenarnya tengah mereka kejar itu. Dan hal itu tidak lebih dari sekedar ilusi dunia.

Sebaliknya, ada hal yang jauh lebih berharga ketimbang sekedar memuaskan fisik. Semua manusia menyadari bagaimana mereka telah diciptakan. Mereka telah diciptakan sebagai jiwa yang ditempatkan dalam jasad (fisik). Jasad kita hanyalah "alat" bagi jiwa, alat untuk ditempati oleh bagian diri kita yang abadi yaitu jiwa tadi. Jasad kita adalah alat yang harus dituntun untuk memperkaya dan memberi makan kepada jiwa sebagai penghuninya. Namun apakah yang kita lakukan? Bukankah kita malah menyerahkan kehiduptan kita ini hanya untuk menafkahi "alat" dengan kesenangan-kesenangan fisik dan duniawi? Dan "Tatanan" ini dengan pintarnya dirancang untuk tetap membuat manusia terikat kepada ilusi duniawi seperti itu. Pada akhirnya pun, manusia akan tetap berada dalam kendali mereka yang mengendalikan tatanan tersebut.

Pernahkah kita bertanya-tanya bahwa hiburan yang setiap harinya disajikan (dicekoki) kepada kita tidak ditayangkan begitu saja? Menurut kalian, apakah para pemilik media itu tengah memberi kita informasi, ataukah menjual acara-acara hiburan demi mendapatkan keuntungan?

Tidak hanya itu. Banyak sekali yang disampaikan kepada kita adalah informasi mengenai perluasan rencana untuk mendukung agenda mereka. Perhatikanlah berita-berita mengenai agresi AS ke Timur Tengah dalam rangka menumbangkan pemerintahan Saddam Husein. Salah satu berita menyebutkan bahwa perang Teluk bermula dari sebuah upaya rekayasa yang mendorong Saddam melakukan invasi ke Kuwait. Kita tidak pernah diinformasikan bahwa sebelum terjadi perang teluk, Saddam Husein adalah sekutu Amerika. Berkali-kali CIA berkunjung ke Irak dan menemui Saddam dengan penuh persahabatan.

Dalam bab sebelumnya telah disebutkan bahwa Saddam hanyalah salah satu bidak di antara banyak bidak lain yang dikendalikan untuk memastikan tercapainya agenda mereka. Hanya dengan memperhatikan dengan seksama berita-berita semacam itu, maka kita tidak membutuhkan pelajaran sejarah di sekolah.

Sementara mereka menjalankan rencananya, kita pun disuguhi beragam berita hiburan yang bertujuan untuk mengalihkan perhatian kita dari rencana tersebut. Sebut saja berita hiburan yang menayangkan tentang obral barang-barang milik Paris Hilton dengan harga murah misalnya. Atau, berita-berita hiburan tentang selebritis top lainnya. Pengalihan-pengalihan perhatian seperti itu membuat kita melupakan keinginan untuk mempertanyakan kebohongan yang disampaikan oleh para politisi terkait peristiwa-peristiwa besar di dunia. Contohnya adalah kebohongan terkait peristiwa 9/11, dan serangkaian serangan pemerintah AS ke Timur Tengah.
Kebohongan dengan mengorbankan yang tidak berdosa demi menyelamatkan kita?
Semua adalah pilihan bagi kita, apakah akan mengejar kesenangan duniawi dan terjebak dalam ilusi ad-dunya, ataukah mencapai surga abadi dengan memperkaya jiwa. Melalui pemaparan ini, saya hanya memperlihatkan tipuan-tipuan dari apa yang kita kejar. Sayangnya, yang semua orang lakukan adalah memperkaya badan ketimbang jiwa apapun bayarannya, dan jiwa terlupakan. Tidak mengherankan bila persepsi kita mengenai kecantikan mengalami penyimpangan, bahwa kecantikan hanyalah semata-mata kecantikan fisik. Lihatlah bagaimana orang-orang melakukan operasi plastik untuk mendapatkan kecantikan yang diinginkan, meskipun harus dibayar dengan rusaknya wajah apabila operasi dilakukan melalui prosedur yang tidak benar. Sekeras apapun upaya kita mengejar kesenangan duniawi, kita tidak akan pernah bisa menggenggamnya. Semakin kita menginginkan, maka kita tidak akan pernah berhenti menginginkan, dan akan terus menginginkannya. Dan inilah yang diberikan ad-dunya kepada kita.