Bab 9: Tatanan Keduniawian Baru - The Diary Of Dajjal

Tatanan Keduniawian Baru
Dikutip dari buku The Diary Of Dajjal Bab 9: Tatanan Keduniawian Baru. KITA telah menyelesaikan bagian satu dari The Diary Of Dajjal. Kini saatnya untuk mengambil langkah. Izinkan saya untuk mengajukan sebuah pertanyaan kepada kalian, menurut kalian, mengapa kalian masih mau membaca buku ini? Ingin saya pertanyakan mengapa kalian masih menanti berbagai keterangan ini? Kalian masih bersama saya karena ingin mengetahui sesuatu, yaitu sesuatu yang tidak bisa kalian jelaskan tapi dapat merasakannya. Kalian telah merasakannya sepanjang hidup kalian dan meyakini ada something wrong yang tengah terjadi di dunia ini. Kalian tidak tahu apakah itu, namun seperti terdapat pecahan-pecahan di kepala kalian, yang membuat kalian seperti menjadi kurang waras. Perasaan inilah yang telah menyebabkan kalian masih membaca buku ini.

Lalu, apakah "Tatanan Dunia Baru" itu?

Tatanan itu berada di sekeliling kita, bahkan di ruangan ini kita bisa melihatnya ketika kita memandang melalui jendela. Atau, ketika menyaksikan televisi, kita dapat merasakannya sewaktu kita pergi untuk bekerja, menuju berbagai tempat ibadah, atau ketika membayar pajak. Ini adalah sebuah dunia yang telah menarik mata kita keluar dari kelopaknya untuk membutakan kita dari kebenaran. Yaitu, kebenaran yang menyatakan bahwa kita adalah budak di bumi ini. Seperti orang-orang lain, kita dilahirkan ke dalam perbudakan. Kita dilahirkan ke dalam sebuah penjara yang bahkan tidak bisa kita cium baunya, tidak bisa kita rasakan dan sentuh wujudnya. Sebuah penjara bagi pikiran kita.

Apakah Definisi Dajjal?
Hamza Yusuf Hanson ialah seorang cendikiawan muslom Sunni yang mengajar di Zaytuna Institute, Kalifornia, Amerika Serikat. Dialah salah seorang penandatangan A Common Word Between Us and You, dan demi perdamaian dan kesepahaman, dia menuliskan surat terbuka antara Cendikiawan muslim dan pemimpin umat Kristen.

Berikut adalah pidato yang disampaikan oleh Hamza Yusuf yang berjudul "Dajjal, Mesiah Palsu",

Marilah kita perhatikan akar kata dari "Dajjal", sebab bahasa Arab memiliki akar kata, dan akar kata merupakan bagian yang sangat penting. Itu akan mengindikasikan dari mana makna semantik sebuah kata berasal.

Kata "dajjal" adalah sebuah ungkapan yang digunakan oleh orang Arab ketika seekor unta terkena penyakit kudis. Untuk menutupi kudis tersebut, unta itu kemudian diolesi aspal. Pada situasi seperti itu, orang Arab akan menggunakan kata "jidal", dan mereka mengoleskan aspal agar penyakit kudisnya tidak terlihat. Dari luar unta itu terlihat sehat karena kudisnya telah dilumasi. Kalian mengerti maksudnya bukan? Nah, itulah pengertian dari kata "dajjal", yaitu menutupi penyakit supaya penyakit itu terlihat baik.

Jadi, pada dasarnya Dajjal menyampaikan pesan kepada pengikutnya, sebagaimana halnya Nabi Isa As. Nabi Isa As. menyampaikan kepada umatnya bahwa kehidupan setelah dunia inilah yang harus kita upayakan. Dalam bahasa Arab, Isa berarti Yesus.

Sementara Dajjal menyampaikan ajarannya bahwa dunia inilah yang harus kita upayakan. Jika Nabi Isa As. menyampaikan bahwa dunia ini adalah delusi yang akan memperdayakan kita, maka Dajjal mengatakan bahwa kehidupan setelah dunialah yang merupakan delusi. Artinya, dengan caranya sendiri, Dajjal akan memaksakan kita untuk meyakini bahwa dunia ini adalah tempat yang paling berharga untuk dihuni.

Perhatikanlah iklan bir. "Kau hanya hidup satu kali, maka bersenang-senanglah selagi bisa", seperti iklan Budweister, "Kau hanya hidup satu kali, kau hanya bersenang-senang satu kali dalam hidupmu, maka raihlah segala kesenangan yang bisa kau raih". Inilah pesan yang disampaikan pada masa kini, yakni pesan mengenai materialisme. Ini menyiratkan, kebahagiaan manusia dicapai melalui pembelian barang-barang. Belilah barang-barang sebanyak-banyaknya, maka manusia akan berbahagia. Seperti inilah slogannya: "Berbahagialah, jangan cemas, berbahagialah", dengan ikon wajah tersenyum (smiley face).

Dalam ceramah lainnya, ulama itu berkata,

Di bagian belakang uang kertas dolar ada sebuah cap lambang yang disebut lambang agung Amerika Serikat (The Great Seal). Apa yang ada di balik lambang tersebut itulah kuncinya, yaitu sebuah piramid dengan "satu mata". "Satu mata" merupakan lambang Dewa Matahari "Ra".

Dari "Ra" inilah kata "ray" (sinar) berasal. Lambang "mata" ini adalah lambang Dewa Matahari. Figur yang sama ini muncul dalam uang kertas ini. Inilah Dewa Matahari kaum Mason. Coba perhatikan, piramid ini tidak berbentuk sempurna karena bagian puncaknya terpotong dan mengapung, dan belum menyatu dengan bagian di bawahnya. Pada bagian puncak yang terpotong dan mengapung inilah terletak "satu mata" tersebut. Kaum Mason percaya bahwa hingga mereka menyelesaikan proyek mereka sebagaimana yang tercantum di bagian dasar uang lembaran itu, yakni "novus ordo seclorum" dan "annuit coeptis" (Providence favors our undertaking) pada bagian atas lambang, yang artinya "Dia berkenan atas persembahan kita". Dewa yang mereka sembah akan senang dengan proyek atau persembahan mereka.

Pertanyaannya adalah, proyek apakah itu? Persembahan apakah yang berkenan bagi dewa mereka? Secara harfiah, proyek tersebut adalah sekularisasi dunia, untuk secara sepenuhnya memisahkan dunia dari keyakinan beragama. Inilah persembahan yang dimaksud, sehingga proyek ini bernama "novus ordo seclorum", yaitu sebuah "tatanan sekuler dan keduniawian baru". Jika Anda menerjemahkan ke dalam bahasa Arab, maka kata-katanya menjadi nirvana di dunyawi, bukan Al Jabik. Tatanan kefanaan, tatanan dunia baru.

Atau "Tatanan Keduniawian Baru", yaitu sebuah tatanan duniawi yang dibangun di atas ilusi dan materialisme, untuk "Mewujudkan Mimpi Amerika", sebagai "Tanah bagi segala kesempatan". Tanah dunia materialistis yang penuh dengan kesenangan duniawi, yang tidak pernah benar-benar kita genggam. Namun melalui ilusi "Dajjal", kita akan memberikan seluruh hidup kita demi tercapainya tatanan tersebut. Dan untuk mencapai tatanan ini, kita harus menjadi bagian dari sistem dan melayani sistem itu. Kemudian, akan menjadi apakah kita? Kita akan menjadi budak. Dengan menjadi bagian dalam sistem Dajjal dan melayaninya, maka kita akan menjadi budak.